Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea. Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa.
BI Intervensi Pasar Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Dolar AS
Husen Miftahudin • 15 October 2026 10:39
Jakarta: Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga mekanisme pasar berjalan baik dan memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil sesuai fundamentalnya. Langkah ini dilakukan di tengah tekanan sentimen global menyusul inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan intervensi dilakukan melalui sejumlah instrumen, baik di pasar offshore maupun domestik.
"Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Erwin di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 15 Oktober 2026.
Selain intervensi di pasar valuta asing, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus dilakukan secara intensif.
Erwin menjelaskan, data inflasi AS yang melampaui perkiraan dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya mendorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang lebih agresif oleh bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.
Inflasi berdasarkan Consumer Price Index (CPI) AS secara tahunan tercatat sebesar 3,7 persen pada September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 3,6 persen. Sementara itu, inflasi inti AS secara tahunan meningkat menjadi 2,6 persen, melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen.
(Ilustrasi. Foto: dok MI)
Konflik Timur Tengah tekan sentimen pasar
Selain inflasi AS, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar keuangan global. Erwin menyebut harga minyak bertahan di atas USD105 per barel sehingga meningkatkan risiko fiskal ke depan.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) sempat melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor dua tahun juga sempat naik 12 basis poin menjadi 4,90 persen.
"Memburuknya sentimen risk-off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," kata Erwin.
Meski menghadapi tekanan eksternal, Erwin menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17 persen.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026. Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.948 per USD. Posisi tersebut dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.903 per USD.