Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Metro TV/Aris Setya.
Pramono Ungkap Dampak Penutupan Selat Hormuz pada Ekonomi Jakarta
Fachri Audhia Hafiez • 1 March 2026 20:28
Jakarta: Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi sengketa antara Iran dan Amerika Serikat (AS) diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasok global. Termasuk stabilitas ekonomi di Jakarta.
Sebagai jalur nadi perdagangan energi dunia yang menyalurkan seperlima ekspor minyak bumi, gangguan di wilayah ini dikhawatirkan memicu lonjakan harga barang konsumsi di Ibu Kota.
“Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat membuka JIS Ramadhan Festival 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu, 1 Maret 2026.
Meski ada ancaman disrupsi global, Pramono meminta warga Jakarta untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying). Ia menegaskan fokus utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini adalah menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat, terutama menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Berdasarkan data Pemprov DKI, stok komoditas utama seperti beras, cabai merah, hingga daging dalam kondisi lebih dari cukup. Pramono memastikan jajarannya terus melakukan pengawasan ketat di pasar-pasar induk untuk memantau pergerakan harga dan laju inflasi agar langkah antisipatif bisa segera diambil jika terjadi anomali harga.
“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta belum terjadi kenaikan,” tegas Pramono.
.jpg)
Kondisi lalu lintas di salah satu ruas jalan di Iran. Foto: Anadolu Agency.
Kekhawatiran terhadap dampak konflik ini diperkuat oleh analisis Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Ia menyebut serangan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari lalu, berpotensi melambungkan harga minyak dunia dari kisaran 70 dolar AS menjadi 80 dolar AS per barel. Bahkan, jika pasokan di Selat Hormuz benar-benar terhenti, harga minyak mentah dunia diprediksi bisa menembus angka 100 dolar AS per barel.
“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” kata Faisal.