Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Hari Ini Ditutup Naik ke Level Rp18.068/USD
Husen Miftahudin • 15 July 2026 15:50
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 15 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.068 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 23 poin atau setara 0,13 persen dari posisi Rp18.091 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 23 poin, sebelumnya sempat menguat 25 poin di level Rp18.068 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp18.091 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.060 per USD. Rupiah juga menguat 34 poin atau setara 0,19 persen dari Rp18.094 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.064 per USD naik 35 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp18.099 per USD.
Konflik AS-Iran makin memanas
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap semua pelabuhan Iran dan Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut. Pada Rabu pagi, AS juga memulai serangkaian serangan baru "untuk terus melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang kapal dagang di Selat Hormuz.
Teheran mengatakan telah kembali menutup selat tersebut setelah permusuhan antara Iran dan AS kembali berkobar pekan lalu, yang semakin memperburuk gencatan senjata yang sudah rapuh yang dicapai pada bulan Juni setelah beberapa bulan pertempuran.
Tentara Iran mengatakan mereka telah melancarkan serangan drone terhadap posisi AS di pangkalan Azraq di Yordania. Tidak ada komentar langsung dari Pentagon. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan mereka menargetkan senjata dan fasilitas penyimpanan di Bahrain dan Kuwait.
Kenaikan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan keraguan nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran.
Sementara itu, Indeks Harga Konsumen pada Juni meleset dari perkiraan, turun dari 4,2 persen (yoy) menjadi 3,5 persen (yoy), dan di bawah perkiraan perlambatan sebesar 3,8 persen, sebuah indikasi kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed saat ini tidak diperlukan. Di sisi lain inflasi inti turun dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen, juga di bawah perkiraan sebesar 2,8 persen.
Para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16 persen dari 40 persen, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 60 persen dari 74 persen.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pemerintah tarik utang baru
Ibrahim menambahkan, meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah seiring pelebaran defisit APBN 2026, kebutuhan penarikan utang baru secara bruto pada tahun ini diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp1.768 triliun. Penerimaan terbesar selama ini berasal dari utang, yang disebut sebagai pembiayaan utang.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan defisit sekaligus pembiayaan anggaran sebesar Rp689,15 triliun. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan utang neto sebesar Rp832,21 triliun dan pembiayaan nonutang sebesar Rp143,06 triliun yang antara lain digunakan untuk pembiayaan investasi dan pemberian pinjaman.
Namun, berdasarkan outlook pemerintah, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun. Sejalan dengan itu, kebutuhan pembiayaan anggaran juga meningkat dengan pembiayaan utang neto diperkirakan mencapai Rp868,12 triliun.
Berdasarkan data utang jatuh tempo dan realisasi tahun sebelumnya, pemerintah harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini. Posisi utang pemerintah pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp9.638 triliun.
Dengan tambahan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp10.600 triliun
Sementara itu Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 tercatat sebesar USD444,4 miliar atau tumbuh 2,1 persen (yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 2,0 persen (yoy), tetap dalam kondisi terkendali di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
BI menjelaskan kenaikan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral. Perkembangan tersebut terutama didorong oleh masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan masih terjaganya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Meski demikian, pada saat yang sama pemerintah juga tetap melakukan pembayaran kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.060 per USD hingga Rp18.110 per USD," jelas Ibrahim.