Harga Emas Tertahan di USD4.400, Dolar AS Melemah

Ilustrasi emas batangan. Foto: Bullionvault.com

Harga Emas Tertahan di USD4.400, Dolar AS Melemah

Husen Miftahudin • 3 September 2026 08:55

Chicago: Harga emas bertahan di dekat level USD4.400 per troy ons pada perdagangan Kamis setelah menguat sekitar satu persen pada sesi sebelumnya. Ekspektasi meredanya tekanan inflasi yang berasal dari sektor energi turut mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.
 
Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) juga menopang harga emas. Sementara itu, penguatan tajam yen Jepang kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi intervensi mata uang.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 3 September 2026, harga emas spot XAU/USD bergerak tipis di USD4.384,21 per ons. Kontrak berjangka emas naik 0,3 persen menjadi USD4.429,21 per ons.
 
Di pasar logam mulia lainnya, perak spot XAG/USD turun 0,1 persen menjadi USD65,26 per ons. Platinum XPT/USD relatif stabil di USD1.760,62, sedangkan indeks dolar AS bergerak tipis di 99,57.
 
Harga emas menguat sekitar satu persen pada Rabu dan mengakhiri tren penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kampanye militer terbaru di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama.
 
Trump mengatakan serangan terbaru AS terhadap Iran kemungkinan berlangsung singkat. Pernyataan tersebut membantu meredakan kenaikan harga minyak sekaligus mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap inflasi yang sebelumnya menekan harga emas.
 
Sebelumnya, konflik terbaru antara AS dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi konflik yang lebih luas dan berkepanjangan. Gangguan pasokan energi yang berkelanjutan berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi.
 
Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.
 

 

Suku bunga jadi perhatian pasar

 
Suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas. Kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi cenderung menekan emas karena logam mulia tersebut tidak menghasilkan bunga.
 
Ketika imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga meningkat, investor memiliki insentif lebih besar untuk mengalihkan dana ke aset yang menghasilkan pendapatan.
 
Harga emas sempat melonjak hingga 1,6 persen pada Rabu seiring pelemahan dolar AS setelah yen Jepang mengalami penguatan tajam.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Inflasi AS mulai mereda

 
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams memberikan sinyal tambahan terkait prospek kebijakan suku bunga. Williams mengatakan terdapat indikasi inflasi AS terus mereda seiring berkurangnya dampak tarif. Ia juga menyampaikan kenaikan harga energi belum menyebar ke sektor jasa lainnya.
 
Perkembangan pasar tenaga kerja AS turut memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi. Berdasarkan laporan ketenagakerjaan ADP, perusahaan swasta AS menambah 38 ribu lapangan kerja pada Agustus. Laju perekrutan yang lebih moderat turut mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed secara agresif.
 
Perkembangan tersebut terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pandangan yang lebih agresif dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat sebelumnya.
 
Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi ketika para pembuat kebijakan The Fed menggelar pertemuan dalam sekitar dua pekan.

(Husen Miftahudin)