Sebelum 'Puasa' Ubah Suku Bunga, Fed Fund Rate Bakal Naik hingga 3 Kali Tahun Ini

Gedung The Fed. Foto: bigalpha.id

Sebelum 'Puasa' Ubah Suku Bunga, Fed Fund Rate Bakal Naik hingga 3 Kali Tahun Ini

Husen Miftahudin • 23 June 2026 11:13

New York: Bank of America (BofA) merevisi proyeksi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini dengan total kenaikan 75 basis poin.
 
Langkah tersebut diperkirakan akan diikuti periode jeda panjang sebelum bank sentral AS tersebut mempertimbangkan pelonggaran kebijakan.
 
Analis BofA Aditya Bhave memproyeksikan kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember. Jika skenario itu terealisasi, suku bunga kebijakan akan berada di kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen.
 
"Kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tersebut sepanjang tahun depan," tulis Bhave seperti dikutip dari Investing.com, Selasa, 23 Juni 2026. Bhave menilai inflasi yang masih relatif stabil akan mencegah suku bunga riil menjadi terlalu ketat.
 
BofA juga mengubah pandangannya terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS. Menurut Bhave, risiko pelemahan di sektor ketenagakerjaan kini mulai menghilang, dengan tingkat pengangguran yang relatif stabil dibandingkan kondisi Mei lalu.
 
Perbaikan kondisi tenaga kerja ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
 
Di sisi inflasi, BofA melihat tekanan harga masih cukup kuat. Bank tersebut memperkirakan inflasi inti personal consumption expenditures (PCE) dapat mencapai 3,5 persen pada Mei, atau sekitar 70 basis poin lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini menunjukkan tantangan inflasi bagi The Fed masih jauh dari selesai.
 

Baca juga: Goldman Sachs Pangkas Risiko Resesi AS Jadi 15% usai Kesepakatan Iran


(Goldman Sachs. Foto: Tokocrypto.com)
 

Sikap Kevin Warsh perkuat prospek hawkish

 
BofA juga merevisi pandangannya terhadap pola respons kebijakan The Fed setelah mencermati Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) edisi Juni.
 
Dalam proyeksi tersebut, sembilan pejabat pembuat kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga, bahkan tanpa adanya proyeksi peningkatan pengangguran. Hal ini menunjukkan pengetatan pasar tenaga kerja tidak lagi menjadi syarat utama untuk langkah kenaikan suku bunga.
 
Pandangan itu diperkuat oleh Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menegaskan pentingnya memulihkan stabilitas harga. Dalam konferensi persnya, Warsh menilai kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk mengendalikan inflasi.
 
Meski demikian, BofA mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat menggagalkan jalur kenaikan suku bunga tersebut. Beberapa di antaranya adalah perlambatan tajam pertumbuhan lapangan kerja, data inflasi inti PCE yang lebih lemah dari perkiraan, atau aksi jual besar-besaran di pasar saham.
 
Faktor-faktor tersebut berpotensi mendorong perubahan arah kebijakan The Fed lebih cepat dari proyeksi saat ini.

(Husen Miftahudin)