Ilustrasi. Foto: Dok BI
Pelemahan Dipengaruhi Ketidakpastian Pasar, Ini Jurus BI Jaga Rupiah
Eko Nordiansyah • 24 September 2026 14:34
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memastikan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental. Bank sentral juga memastikan mekanisme pasar berjalan baik, seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
"Penguatan strategi operasi moneter pro-market juga dilakukan untuk mengelola struktur suku bunga pasar uang," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 24 September 2026.
Erwin menambahkan, efektivitas stabilisasi dan kecukupan likuiditas diperkuat melalui peningkatan insentif swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri, serta perluasan transaksi underlying yang mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment.
Baca Juga :
Pakar Ungkap Proyeksi Rupiah hingga Akhir 2026
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Upaya intervensi oleh BI
Lebih lanjut, intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat.Erwin menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal.
Kondisi tersebut mendorong imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11 persen, tertinggi sejak 2007.
Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas USD100 per barel.
Sedangkan dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets.
Secara umum, menurut BI, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter to date (qtd) sebesar 0,46 persen. Sementara cadangan devisa meningkat menjadi USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.