Inflasi Produsen AS Naik 1,3% di September, Tertinggi dalam 4,5 Tahun

Ilustrasi. Foto: OCBC NISP.

Inflasi Produsen AS Naik 1,3% di September, Tertinggi dalam 4,5 Tahun

Husen Miftahudin • 16 October 2026 07:55

New York: Harga produsen di Amerika Serikat (AS) melonjak pada September 2026, mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam sekitar 4,5 tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan harga energi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 16 Oktober 2026, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir meningkat 1,3 persen secara bulanan pada September. Angka tersebut melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,6 persen dan kenaikan 0,5 persen pada Agustus.
 
Departemen Tenaga Kerja AS mencatat harga barang untuk permintaan akhir naik 2,6 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak penghitungan indeks PPI dimulai pada Desember 2009. Lebih dari 80 persen kenaikan harga barang berasal dari lonjakan indeks permintaan energi akhir sebesar 10,8 persen. Harga bensin bahkan melonjak 20,3 persen.
 
Selain bensin, kenaikan harga juga terjadi pada bahan bakar diesel, sayuran segar dan kering, bahan bakar jet, serta minyak mentah. Pergerakan tersebut mengimbangi penurunan harga telur ayam yang mencapai 39,7 persen. Pada sektor jasa, harga untuk permintaan akhir meningkat 0,8 persen, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2026.
 
Hampir separuh kenaikan harga jasa tersebut berasal dari peningkatan margin layanan perdagangan untuk permintaan akhir sebesar 1,4 persen. Sementara itu, indeks layanan transportasi dan pergudangan untuk permintaan akhir naik 3,4 persen.
 
Lonjakan biaya bahan bakar diesel juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan memengaruhi harga berbagai barang. Dalam laporan sumber, tekanan tersebut dikaitkan dengan kendala pasokan energi di tengah perang Iran.
 

 

Inflasi tahunan meningkat

 
Secara tahunan, PPI AS meningkat 6,3 persen hingga September 2026, naik dari 5,6 persen pada periode sebelumnya. Realisasi tersebut juga melampaui perkiraan ekonom sebesar 5,3 persen.
 
Data PPI menjadi perhatian pelaku pasar karena sejumlah komponennya digunakan dalam penghitungan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
 
Kenaikan harga produsen tersebut menyusul data harga konsumen yang juga melampaui ekspektasi pasar pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kedua indikator tersebut memperkuat perhatian terhadap tekanan inflasi di perekonomian terbesar dunia itu.
 
Tekanan inflasi menjadi tantangan bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Bank sentral AS tersebut sebelumnya menaikkan suku bunga pada September 2026 untuk meredam inflasi dan mengarahkannya kembali ke target dua persen.
 
Meski demikian, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pada 27-28 Oktober masih relatif terbatas, yakni sekitar satu banding tiga. Untuk pertemuan terakhir tahun ini pada Desember, pasar memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25 poin persentase.
 
Perkembangan inflasi produsen dan konsumen menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam memperkirakan langkah kebijakan moneter berikutnya.


(Ilustrasi. Foto: Freepik)
 

Penjualan ritel lampaui perkiraan

 
Di tengah tekanan harga, data terpisah menunjukkan penjualan ritel AS masih tumbuh pada September 2026, meski lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
 
Penjualan ritel meningkat 0,8 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 1,3 persen pada Agustus. Namun, realisasi tersebut melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,3 persen.
 
Jika tidak memperhitungkan kendaraan bermotor dan bensin, penjualan ritel tumbuh 0,2 persen. Sementara itu, penjualan ritel di luar kendaraan bermotor meningkat 0,9 persen.
 
Data tersebut menunjukkan aktivitas belanja konsumen masih bertahan, meskipun kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengeluaran masyarakat.

(Husen Miftahudin)