Wall Street Bervariasi: Nasdaq Raup Cuan, Dow Jones Malah Boncos

Ilustrasi, perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Wall Street Bervariasi: Nasdaq Raup Cuan, Dow Jones Malah Boncos

Husen Miftahudin • 1 October 2026 08:19

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu waktu setempat. Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan memberikan sentimen positif bagi pasar, tetapi tekanan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan harga minyak membatasi penguatan indeks.
 
Mengutip Xinhua, Kamis, 1 Oktober 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 443,87 poin atau 0,86 persen menjadi 50.906,05. S&P 500 melemah 19,30 poin atau 0,25 persen ke level 7.651,54. Sebaliknya, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 63,52 poin atau 0,24 persen menjadi 26.861,06.
 
Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor barang konsumsi pokok mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,68 persen, diikuti sektor kesehatan yang turun 1,39 persen. Sementara itu, sektor teknologi menguat 0,61 persen. Sektor barang konsumsi nonpokok juga naik 0,13 persen.
 
Dari sisi makroekonomi, Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 3,4 persen secara tahunan pada Agustus.
 
Angka tersebut berada di bawah konsensus pasar sebesar 3,7 persen. Kenaikan PCE juga melambat dibandingkan tingkat yang tercatat sepanjang sebagian besar musim panas.
 
Untuk PCE inti yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, kenaikannya mencapai tiga persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi sebesar 3,3 persen dan turun dari 3,3 persen pada Juli.
 
Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen pada Agustus, turun 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi kenaikan 0,3 persen.
 
Data ketenagakerjaan juga menunjukkan perbaikan. Perusahaan pemroses penggajian ADP melaporkan sektor swasta AS menambah 90 ribu pekerjaan pada September.
 
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tambahan 36 ribu pekerjaan pada Agustus. Data ini menunjukkan aktivitas perekrutan domestik masih bertahan.
 



(Ilustrasi. Foto: iStock)
 

Ekspektasi kenaikan suku bunga menurun

 
Data inflasi yang melandai turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Sentimen tersebut diperkuat pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang menyebut tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
 
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas tersirat kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober turun menjadi 37 persen. Angka tersebut menurun tajam dari lebih dari 70 persen yang diperkirakan sepekan sebelumnya.
 
Meski ekspektasi kenaikan suku bunga mereda, pergerakan Wall Street masih dibayangi tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik lebih dari 4 basis poin menjadi 5,291 persen. Level tersebut mendekati posisi tertinggi dalam beberapa dekade yang dicapai pada awal pekan.
 
Sementara itu, imbal hasil Treasury bertenor 30 tahun meningkat lebih dari 6 basis poin menjadi 5,634 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat tekanan terhadap pasar saham tetap tinggi, meskipun data inflasi memberikan sinyal pelonggaran tekanan harga.
 
Di sisi lain, sejumlah saham perusahaan juga menjadi perhatian investor. Saham Boeing ditutup turun 0,87 persen setelah sempat menguat pada awal perdagangan. Penurunan terjadi setelah perusahaan tersebut dipilih Angkatan Laut AS untuk program pesawat tempur generasi berikutnya.
 
Sementara itu, saham Robinhood Markets turun 3,2 persen setelah perusahaan mengumumkan produk perdagangan aktif baru. Investor juga menantikan laporan pendapatan Micron setelah penutupan pasar. Laporan tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar memori dan perkembangan bisnis terkait kecerdasan buatan (AI).

(Husen Miftahudin)