BNN Miskinkan Bandar Narkoba lewat Rampas Aset TPPU Narkotika Rp165 Miliar

Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 di Bogor, Jawa Barat. Foto: ANTARA/Agatha Olivia Victoria.

BNN Miskinkan Bandar Narkoba lewat Rampas Aset TPPU Narkotika Rp165 Miliar

Fachri Audhia Hafiez • 23 July 2026 15:21

Bogor: Badan Narkotika Nasional (BNN) merampas aset hasil tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari transaksi narkotika senilai lebih dari Rp165 miliar. Nilai ini diperoleh sepanjang operasi periode Oktober 2024 hingga Juli 2026.

"Kami tidak cukup, tidak puas hanya menangkap, tetapi kami juga punya semangat untuk memiskinkan para bandar," tegas Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dilansir Antara, Kamis, 23 Juli 2026.
 


Suyudi menjelaskan, perampasan aset TPPU tersebut berasal dari hasil pengungkapan berbagai kasus dengan total barang bukti yang disita mencapai 12,3 ton narkotika. Untuk melumpuhkan kekuatan finansial sindikat, BNN memperkuat pendekatan intelijen.

Kerja sama lintas lembaga, operasi bersama, pemutusan rantai pasok, hingga pengejaran jaringan lintas negara juga diperkuat. Langkah ini didukung strategi follow the money atau penelusuran aliran dana secara intensif.

Ia menegaskan BNN terus menyempurnakan strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) secara komprehensif, berimbang, dan tegas tanpa kompromi terhadap para bandar. Meski begitu, pendekatan humanis tetap diterapkan bagi para korban dan penyalahgunaan.

"Ini lah semangat yang kami maknai dalam War on Drugs for Humanity, yaitu perang terhadap kejahatan narkotika namun tetap menjunjung tinggi hak manusia, humanis terhadap korban penyalahguna demi menyelamatkan manusia," ucap Suyudi.


Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 di Bogor, Jawa Barat. Foto: ANTARA/Agatha Olivia Victoria.

Suyudi menambahkan, Indonesia tengah berada pada fase krusial dalam mempersiapkan generasi unggul demi menyambut bonus demografi menuju visi Indonesia Emas 2045. Visi tersebut membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang sehat, cerdas, dan produktif.

"Pemerintah telah membangun berbagai fondasi penting untuk mewujudkan dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan narkotika masih menjadi salah satu ancaman serius," kata Suyudi.

(Fachri Audhia Hafiez)