Rupiah Rabu Sore Ditutup di Level Rp17.952/USD

Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

Rupiah Rabu Sore Ditutup di Level Rp17.952/USD

Husen Miftahudin • 1 July 2026 15:49

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penurunan.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 1 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.952 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 45 poin atau setara 0,25 persen dari posisi Rp17.907 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 45 poin, sebelumnya sempat melemah 70 poin di level Rp17.952 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.907 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.904 per USD. Rupiah justru menguat 17 poin atau setara 0,09 persen dari Rp17.957 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.961 per USD turun 62 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.899 per USD.
 

Baca juga: Rupiah Dibuka ke Rp17.944/USD Rabu, 1 Juli 2026
 

Pasar menanti hasil pembicaraan AS-Iran di Doha 


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran yang mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global.

"Para pedagang tetap fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis," papar Ibrahim.

Menurut dia pergeseran ini mengaburkan prospek kesepakatan cepat untuk mengubah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu menjadi kesepakatan perdamaian yang langgeng.

Pemulihan ini terjadi setelah penurunan tajam harga minyak mentah pascakonflik Iran. Harga Brent anjlok sekitar 38 persen selama kuartal kedua setelah melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama, menandai penurunan kuartalan tercuram sejak penurunan rekor 66 persen pada kuartal pertama tahun 2020.

Patokan global ini juga turun sekitar 21 persen pada Juni setelah penurunan 19 persen pada Mei, penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz mereda.

Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Indonesia cetak defisit perdagangan


Di sisi lain, lanjut Ibrahim, pasar merespons negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 sebesar defisit USD1,61 miliar. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak enam tahun lalu.

Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar USD24,81 miliar, sedangkan ekspor RI tercatat hanya USD23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Defisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas sebesar defisit USD3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah. Adapun, dari catatan BPS, impor memang meningkat hingga 22,16 persen jika dibandingkan Mei 2025.

BPS mencatat impor migas sebesar USD4,51 miliar meningkat 70,78 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Impor nonmigas USD20,30 miliar atau naik 14,69 persen. Impor tahunan didorong impor non migas dengan andil 12,95 persen.

Selain itu, inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34 persen (yoy). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut.

Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.950 per USD hingga Rp18.010 per USD," jelas Ibrahim.

(Husen Miftahudin)