Harga Emas Dunia Turun 0,7 Persen dalam Sepekan

Ilustrasi emas batangan. Foto: Bullionvault.com

Harga Emas Dunia Turun 0,7 Persen dalam Sepekan

Husen Miftahudin • 17 October 2026 08:14

Chicago: Harga emas dunia mencatat penurunan mingguan pada perdagangan Jumat waktu setempat. Pergerakan tersebut terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah, yang mengimbangi dukungan dari pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 17 Oktober 2026, harga emas spot turun 0,1 persen menjadi USD4.165,40 per ons. Sebaliknya, harga emas berjangka naik 0,4 persen menjadi USD4.186,70 per ons.

Meski bergerak berbeda pada perdagangan harian, kedua instrumen tersebut masing-masing mencatat penurunan sebesar 0,7 persen sepanjang pekan ini. Pelaku pasar logam mulia mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) setelah sejumlah data inflasi AS melampaui perkiraan.

Indeks harga konsumen (CPI) utama dan inti AS pada September masing-masing mencatat kenaikan tahunan sebesar 3,7 persen dan 2,6 persen. Inflasi utama turut dipengaruhi lonjakan indeks harga energi sebesar 20,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) utama AS meningkat 6,3 persen secara tahunan pada September. Angka tersebut menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak Desember 2022.

The Fed menargetkan inflasi jangka panjang sebesar 2 persen. Dalam mengukur tekanan harga, bank sentral AS tersebut lebih mengandalkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE).

Data inflasi yang tinggi sempat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada akhir Oktober. Namun, ekspektasi tersebut mereda setelah Ketua The Fed Kevin Warsh berbicara dalam forum rangkaian pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Grup Bank Dunia di Bangkok, Thailand.

Warsh menyebut inflasi yang persisten masih menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan di berbagai negara. Meski demikian, ia menilai perekonomian global menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Ia juga menyatakan The Fed telah mengurangi sebagian akomodasi kebijakan moneter pada pertemuan September, tetapi tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya.
 

 

Peluang kenaikan suku bunga turun


Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas FOMC menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober turun menjadi sekitar 17 persen, dari hampir 28 persen pada Kamis.

Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga dapat memberikan dukungan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Prospek suku bunga yang lebih rendah juga cenderung mengurangi daya tarik dolar AS sehingga emas menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Meski demikian, pergerakan harga emas tidak hanya ditentukan oleh ekspektasi suku bunga. Perubahan imbal hasil obligasi, nilai tukar dolar, dan perkembangan geopolitik turut memengaruhi minat investor terhadap logam mulia.

Faktor lain yang memengaruhi pergerakan emas pada pekan ini adalah reli pasar obligasi pemerintah AS pada Kamis, yang mendorong penurunan imbal hasil atau yield.

Di tengah kekhawatiran mengenai besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), obligasi pemerintah kembali diminati sebagai aset yang relatif aman.

Penurunan imbal hasil obligasi dapat mengurangi biaya peluang memegang emas, yang tidak menghasilkan bunga. Kondisi tersebut berpotensi menopang harga emas di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Kenaikan harga minyak bayangi pasar emas


Dari sisi geopolitik, kenaikan harga minyak mentah turut menjadi perhatian pelaku pasar. Sepanjang pekan ini, kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik 4,8 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 10,9 persen.

Kenaikan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Meski aliran minyak mentah dari kawasan tersebut secara umum telah mendekati tingkat sebelum perang, risiko gangguan distribusi kembali meningkat akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal komersial di jalur tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Pada saat yang sama, konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi turut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran Bab el-Mandeb.

Kenaikan harga energi juga menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.

(Husen Miftahudin)