Wall Street Ambruk di Tengah Lonjakan Imbal Hasil Obligasi, Nasdaq Paling Boncos

Perdagangan saham pada Bursa Saham AS, Wall Street. Foto: Xinhua.

Wall Street Ambruk di Tengah Lonjakan Imbal Hasil Obligasi, Nasdaq Paling Boncos

Husen Miftahudin • 29 September 2026 07:46

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin waktu setempat. Tekanan datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan harga minyak mentah setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 29 September 2026, Dow Jones Industrial Average turun 347,11 poin atau 0,67 persen menjadi 51.481,51. S&P 500 melemah 59,72 poin atau 0,77 persen menjadi 7.683,69. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 248,34 poin atau 0,92 persen menjadi 26.820,38.
 
Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor layanan komunikasi dan barang konsumsi nonesensial mencatat penurunan terbesar, masing-masing 1,67 persen dan 1,58 persen. Sebaliknya, sektor barang konsumsi esensial naik 0,40 persen dan sektor kesehatan menguat 0,29 persen.
 
Pelemahan Wall Street terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang kembali melanjutkan kenaikan tajam dari pekan sebelumnya. Imbal hasil obligasi 10 tahun acuan melonjak tujuh basis poin menjadi 5,25 persen.
 
Level tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 2026 dan merupakan posisi tertinggi sejak pertengahan 2007. Imbal hasil obligasi 30 tahun juga mendekati 5,60 persen, level tertinggi sejak 2004.
 
Sementara itu, imbal hasil obligasi dua tahun naik lebih dari lima basis poin menjadi 4,916 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi turut memberikan tekanan terhadap pasar saham karena investor mencermati prospek kebijakan moneter AS.
 

 

Nvidia naik, Boeing dan Meta tertekan

 
Di sektor korporasi, saham Nvidia naik 1,68 persen. Kenaikan terjadi setelah dewan direksi perusahaan mengesahkan tambahan program pembelian kembali saham senilai USD150 miliar.
 
Dengan keputusan tersebut, total otorisasi pembelian kembali saham Nvidia yang masih tersedia mencapai USD235 miliar hingga tahun fiskal yang berakhir pada Januari 2028.
 
Nvidia juga memperkenalkan dua alat sumber terbuka, yakni OpenShell dan Nvidia Sentry. Keduanya ditujukan untuk membantu mengendalikan agen kecerdasan buatan (AI).
 
Di sisi lain, saham Boeing merosot hampir tujuh persen setelah perusahaan mengungkapkan adanya gangguan perangkat lunak pada pesawat 737 Max yang memengaruhi proses pendaratan.
 
Saham Meta Platforms juga turun hampir 4,8 persen setelah perusahaan menunjuk Chief Executive Officer (CEO) MongoDB untuk memimpin upaya baru dalam pengembangan AI. Kabar tersebut turut menekan saham MongoDB serta menyeret saham Salesforce, ServiceNow, dan Snowflake.
 
Di sisi lain, saham Tesla turun hampir empat persen setelah perusahaan menunda peluncuran versi terbaru Roadster menjelang laporan pengiriman kendaraan pada kuartal ketiga. Sementara itu, saham SpaceX merosot lebih dari dua persen meskipun roket Starship mencapai orbit untuk pertama kalinya dalam penerbangan uji ke-14.


(Ilustrasi. Foto: iStock)
 

Investor pelototi kebijakan The Fed

 
Investor juga mencermati potensi pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan sekitar 70 persen peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve 28 Oktober.
 
Perkiraan tersebut muncul setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga pada 16 September, kenaikan pertama sejak 2023. Suku bunga acuan AS kini berada di kisaran 3,75-4 persen.
 
Perhatian investor pada pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Agustus dijadwalkan dirilis pada Rabu.
 
Selain itu, laporan ketenagakerjaan AS untuk September akan dirilis pada Jumat. Kedua data tersebut menjadi perhatian pasar dalam mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve.

(Husen Miftahudin)