Kontrak Berjangka Saham AS Tertekan Ancaman Baru Trump ke Iran

Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Kontrak Berjangka Saham AS Tertekan Ancaman Baru Trump ke Iran

Husen Miftahudin • 22 June 2026 08:37

New York: Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada Minggu malam waktu setempat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman serangan lanjutan terhadap Iran di tengah proses negosiasi damai yang masih berlangsung.

Mengutip Investing.com, Senin, 22 Juni 2026, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,6 persen ke level 7.523,50. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 terkoreksi 0,1 persen ke 30.410,0, dan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 0,37 persen ke 51.814,0.

Pelemahan kontrak berjangka terjadi setelah Wall Street mencatat penutupan positif pada Jumat, didorong optimisme terhadap kerangka kesepakatan damai antara AS dan Iran. Penguatan saham-saham produsen chip di tengah prospek pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) turut menopang pergerakan indeks.

Namun, sentimen berubah setelah Trump pada Minggu mengancam akan menyerang Iran jika Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Kelompok Hizbullah saat ini masih terlibat konflik dengan Israel di wilayah Lebanon Selatan, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam proses negosiasi damai.

Komentar Trump muncul ketika pejabat AS dan Iran sedang menggelar pembicaraan di Swiss untuk membahas kerangka kesepakatan penghentian perang. Meski demikian, media Iran melaporkan delegasi Teheran meninggalkan lokasi perundingan setelah pernyataan terbaru tersebut.

Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan delegasi Iran menolak kembali ke pembicaraan empat pihak. Kendati demikian, komunikasi masih berlangsung melalui mediator dari Pakistan dan Qatar.
 

Baca juga: Kebijakan Bank Sentral Bakal Lebih Agresif, Ini Dampaknya ke Pasar Saham
 

Selat Hormuz jadi sorotan


Pekan lalu, AS dan Iran menyepakati nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Strait of Hormuz. Akan tetapi, isu Lebanon masih menjadi titik krusial. Israel menegaskan operasi militer terhadap target Hizbullah di Lebanon Selatan tetap berlanjut.

Iran menuding AS dan Israel telah melanggar kesepakatan terkait serangan ke Lebanon. Laporan akhir pekan juga menyebut Teheran kembali menutup Selat Hormuz setelah sebelumnya sempat membuka jalur pelayaran terbatas.

Sinyal yang bertolak belakang dari kedua negara memperlihatkan rapuhnya nota kesepahaman tersebut, sekaligus memunculkan keraguan atas peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih komprehensif.

AS dan Iran sebelumnya berkomitmen melanjutkan perundingan selama 60 hari guna membahas program nuklir Teheran. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tetap tinggi.


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Wall Street ditopang saham teknologi


Sebelum tekanan geopolitik meningkat, Wall Street menutup perdagangan Jumat dengan penguatan, didorong reli saham teknologi dan produsen chip.

Indeks S&P 500 menguat 0,55 persen, Nasdaq Composite naik 1,9 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,1 persen. Ketiga indeks tersebut ditutup mendekati level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Optimisme pasar masih bertumpu pada prospek jangka panjang sektor AI yang dinilai dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan perusahaan teknologi.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) periode Mei dan revisi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan.

Di akhir pekan, pasar juga akan mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei, yang menjadi indikator inflasi utama acuan Federal Reserve. Rilis data tersebut dinilai penting untuk membaca arah inflasi dan potensi kebijakan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat.

(Husen Miftahudin)