Ilustrasi, perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Liu Yanan.
Dow Jones Tertekan, Nasdaq Menguat saat Harga Minyak Melesat
Husen Miftahudin • 9 July 2026 08:20
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir serta mengancam akan melancarkan serangan militer lanjutan.
Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik.
Mengutip Xinhua, Kamis, 9 Juli 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,09 persen ke level 52.348,39. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,28 persen menjadi 7.482,71, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,20 persen ke 25.870,65.
Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup melemah. Sektor material dan keuangan memimpin penurunan masing-masing sebesar 2,49 persen dan 1,92 persen.
Sebaliknya, sektor energi dan teknologi menjadi dua sektor yang mencatat kenaikan. Sektor energi menguat 1,45 persen, sedangkan sektor teknologi naik 1,44 persen, didukung kenaikan harga minyak dan saham-saham teknologi.
Ancaman Trump tingkatkan kekhawatiran geopolitik
Trump kembali menegaskan ancamannya terhadap Iran dengan menyatakan Amerika Serikat akan "menghantam mereka dengan keras malam ini." Pernyataan tersebut meningkatkan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei melalui unggahan di platform X pada Rabu, menyatakan AS telah menantang klausul dan dalam praktiknya melanggar struktur perjanjian melalui tindakan sepihaknya serta serangan agresif terhadap Iran.
"Republik Islam Iran akan dengan teguh berupaya melindungi kepentingan nasionalnya dan menjalankan kedaulatannya," tulis Esmaeil Baqaei menegaskan.
Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga minyak dunia. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus naik USD3,08 atau 4,37 persen menjadi USD73,52 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent kontrak September meningkat USD3,86 atau 5,2 persen menjadi USD78,02 per barel di ICE Futures Europe.
Dari sisi korporasi, Apple mengumumkan perjanjian multi-tahun untuk membeli chip senilai sedikitnya USD30 miliar dari Broadcom. Pengumuman tersebut mendorong saham Broadcom naik hampir lima persen pada perdagangan sore, sedangkan saham Apple menguat hampir satu persen.

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Investor cermati risalah rapat The Fed
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve periode Juni yang dirilis pada Rabu sore. Dokumen tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral mengenai perlunya kenaikan suku bunga serta tingkat ketatnya kebijakan moneter saat ini.
Dalam risalah tersebut disebutkan beberapa peserta menyatakan mereka tidak menganggap kebijakan saat ini sebagai kebijakan yang membatasi, sementara beberapa peserta lain berkomentar bahwa mereka menganggap kebijakan saat ini sebagai kebijakan yang sedikit membatasi.
Sebelumnya, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengindikasikan bank sentral akan menahan diri untuk tidak memberikan panduan kebijakan ke depan.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi 68,8 persen dari 62 persen sehari sebelumnya. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember juga naik menjadi 85,3 persen.
Kombinasi meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter mendorong investor bersikap lebih berhati-hati dalam perdagangan di Wall Street.