Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com/Husen Miftahudin.
Rupiah ke Rp18.083/USD, The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga
Ade Hapsari Lestarini • 28 July 2026 18:25
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, bergerak melemah 74 poin atau 0,41 persen menjadi Rp18.083 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.009 per USD.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp18.088 per USD dari sebelumnya Rp17.995 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi besar Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga.
"Federal Reserve diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga pada Rabu, 28 Juli 2026," ucap dia, dilansir Antara, Selasa, 28 Juli 2026.
CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen untuk skenario suku bunga tetap dipertahankan. Namun, prospek kebijakan moneter cenderung fluktuatif bulan ini di tengah situasi yang dinamis di Timur Tengah, mengingat harga minyak sempat melonjak sekitar 20 persen dalam dua pekan saat AS dan Iran saling melancarkan serangan terkait kendali atas Selat Hormuz.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Pasar menanti pernyataan Ketua Fed
Pasar juga menantikan pernyataan dari Ketua Fed Kevin Warsh, pasca menerima komentar yang cenderung hawkish darinya sejak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada Juni.
Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga, dan juga telah meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap operasional Fed dengan menunjuk lima gugus tugas untuk menangani berbagai aspek, seperti komunikasi dan kerangka kerja mencapai sasaran inflasi.
Melihat sentimen domestik, lanjutnya, ketidakpastian ekonomi dalam negeri usai pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak sempat direspons negatif oleh pasar karena dalam jangka pendek meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepimpinan yang baru di tengah depresiasi nilai tukar rupiah, derasnya outflow dana asing, serta potensi tren kenaikan suku bunga global.
"Namun, penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan," ungkap dia.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada penunjukan Gubernur BI secara definitif yang diharapkan sesuai dengan harapan pasar dan berjalan lancar, sehingga dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings disebut ikut merespons berita pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI.
"Sovereign Analyst di S&P Global Ratings Rain Yin mengatakan kepada outlet media Bloomberg, ia menilai pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia, meski hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara," ujar Ibrahim.