Menguat Empat Pekan Beruntun, Dolar AS Makin Perkasa

Dolar AS. Foto: Marketplace.org

Menguat Empat Pekan Beruntun, Dolar AS Makin Perkasa

Husen Miftahudin • 10 October 2026 08:48

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat selama empat pekan berturut-turut, didukung ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan kekhawatiran terhadap kondisi keuangan publik Eropa. Sebaliknya, euro menuju pelemahan mingguan selama lima pekan beruntun.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 10 Oktober 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,08 persen menjadi 102,216.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1202 dari USD1,1209 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, pound sterling Inggris menguat menjadi USD1,3241 dari USD1,3225.

Dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang menjadi 158,21 yen dari 157,86 yen pada sesi sebelumnya. Sebaliknya, dolar melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,8298 franc dari 0,8316 franc.

Terhadap dolar Kanada, greenback menguat menjadi 1,4266 dolar Kanada dari 1,4224 dolar Kanada. Dolar AS juga naik terhadap krona Swedia menjadi 9,9909 krona dari 9,9757 krona.
 

 

Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed topang dolar


Mengutip Investing.com, dukungan terhadap dolar AS masih kuat setelah risalah rapat The Fed pada September dirilis pada Rabu. Risalah tersebut menunjukkan para pembuat kebijakan masih memandang inflasi sebagai ancaman utama terhadap stabilitas ekonomi makro.

Meski pasar uang mulai mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed akhir Oktober, ekspektasi kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember masih berada di atas 84 persen berdasarkan data CME FedWatch.

Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat atau hawkish tersebut menjadi salah satu faktor pendukung dolar AS. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi dolar bagi investor.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Selisih imbal hasil AS dan Eropa jadi perhatian


Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dilaporkan sedikit turun dari level tertingginya sejak 2002, yakni ke kisaran 5,30 persen. Namun, selisih suku bunga dan imbal hasil antara AS dan kawasan euro masih menjadi faktor yang memengaruhi aliran modal internasional ke aset berdenominasi dolar.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi keuangan publik Eropa turut membebani euro. Mata uang tunggal kawasan tersebut menuju penurunan mingguan kelima secara beruntun.

Pelaku pasar selanjutnya menantikan data awal sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi jangka panjang yang dirilis Universitas Michigan.

Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang dicermati investor untuk menilai ketahanan ekonomi AS dan memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed pada pekan berikutnya.

(Husen Miftahudin)