Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Naik 0,09% ke Level Rp17.899/USD
Husen Miftahudin • 9 October 2026 15:49
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami kenaikan.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 9 Oktober 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.899 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 16 poin atau setara 0,09 persen dari posisi Rp17.915 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan hari ini mata uang rupiah ditutup menguat 16 poin, sebelumnya sempat menguat 40 poin di level Rp17.899 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.915 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.875 per USD. Rupiah menguat 15 poin atau setara 0,08 persen dari Rp17.890 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.884 per USD naik tipis enam poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.890 per USD.
Negosiasi perdamaian AS-Iran masih berlangsung
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Washington sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran dan menegaskan tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres pada 3 November, menyusul laporan media yang menyebutkan ia sedang mempertimbangkan serangan sebelum tanggal tersebut.
Pada hari yang sama, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi bahwa Teheran sedang meninjau tanggapan AS terhadap usulannya untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
AS terus memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran dalam upaya mengakhiri konflik yang kini telah memasuki bulan kedelapan tersebut. Pada Kamis, AS menjatuhkan sanksi baru yang menyasar sejumlah individu, jaringan, serta 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia asal Iran.
Sementara itu, data ekonomi yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197 ribu dari 199 ribu pada minggu sebelumnya, angka yang berada di bawah perkiraan pasar sebesar 200 ribu.
"Hari ini fokus pasar akan tertuju pada survei Sentimen Konsumen University of Michigan untuk bulan Oktober yang diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai pandangan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi dan inflasi di AS," papar Ibrahim.
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: dok MI)
Defisit APBN capai Rp319 triliun
Di sisi lain, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat defisit APBN September 2026 tercatat sebesar Rp319 triliun defisit APBN September 2026, setara dengan 1,24 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara mencatatkan kenaikan 25 persen dan belanja negara naik 19 persen, tercatat senilai Rp2.341,5 triliun per September 2026, realisasinya 74,2 persen dari target pendapatan negara tahun ini senilai Rp3.153,6 triliun.
Pendapatan negara juga tercatat naik 25,5 persen (YoY) dan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun per September 2026, realisasinya 69,2 persen dari target belanja negara tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Belanja negara tercatat naik 19,0 persen (YoY).
Belanja negara yang lebih banyak dari pendapatan negara menyebabkan defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari PDB. Defisit di bulan lalu, (Agustus 2026) 0,9 persen. Hari ini, per akhir September 1,2 persen.
Sedangkan target defisit di akhir tahun 2,68 persen. Beban APBN bertambah Rp6 triliun setiap harga minyak naik USD1 per barel keseimbangan primer tercatat mencapai Rp125,5 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer sepanjang tahun didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak penurunan cukup tajam defisit APBN.
Pada akhir Agustus 2026, defisit APBN mencapai Rp321,6 triliun atau setara 1,35 persen dari PDB. Artinya, defisit APBN September 2026 yang sebesar Rp319 triliun turun 14,13 persen dibandingkan realisasi APBN September 2025 (Rp371,5 triliun). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Senin minggu depan akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.890 per USD hingga Rp17.950 per USD. Sedangkan perdagangan dalam minggu depan di rentang Rp17.780 per USD sampai Rp18.060 per USD," jelas Ibrahim.