Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Pagi Ini Naik 0,05% ke Rp16.820
Husen Miftahudin • 25 February 2026 10:23
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 25 Februari 2026, rupiah hingga pukul 10.15 WIB berada di level Rp16.820 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik tipis sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp16.829 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.825 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan mengut.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.770 per USD hingga Rp16.800 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Rupiah Ditutup Turun ke Level Rp16.829 per USD |
AS-Iran diplomasi nuklir
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa. Kondisi ini meningkatkan harapan ketegangan dapat mereda.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka, komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi.
Kemudian, Presiden AS Donald Trump mengatakan akhir pekan lalu ia akan mengenakan tarif 10 persen pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.
Pemerintahan kemudian menaikkan tarif menjadi 15 persen, maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran tentang tindakan balasan dan potensi gangguan pada rantai pasokan global. Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, menambah volatilitas pasar.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
APBN defisit Rp54,6 triliun
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat APBN membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun per akhir Januari 2026. Defisit APBN tersebut setara dengan 0,21 persen dari produk domestik bruto (PDB), dengan rincian pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,5 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun.
Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp227,3 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun.
"Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara. Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026," tegas Ibrahim.
Lebih lanjut, untuk defisit keseimbangan primer tercatat mencapai Rp4,2 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Adapun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak ada kenaikan dalam defisit APBN.
Pada akhir Januari 2024, defisit APBN mencapai Rp23 triliun atau setara 0,09 persen dari PDB (lebih rendah Rp31,6 triliun dibandingkan realisasi akhir Januari 2026). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.