Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto (kiri) bersama Kepala BNPT Eddy Hartono (kanan) dalam kunjungan kerja ke Kantor BNPT di Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026). ANTARA/HO-BNN RI
BNN: Penanganan Narkoba dan Terorisme Butuh Cara Serupa tapi Tak Sama
Siti Yona Hukmana • 13 April 2026 13:53
Jakarta: Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menyatakan penanganan narkotika dan terorisme membutuhkan pendekatan serupa, tetapi tak sama. Pendekatan yang dimaksud, pengendalian adiksi pada kasus narkotika dan penanganan ideologi pada terorisme.
"Upaya tersebut perlu diperkuat melalui pembinaan nilai serta pemberdayaan ekonomi, seperti pengalihan komoditas dari tanaman ganja ke kopi di Gayo Lues," kata Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dilansir Antara, Senin, 13 April 2026.
Ia pun menyoroti perkembangan modus penyalahgunaan narkotika yang semakin kompleks, termasuk pada rokok elektrik. Menurutnya, temuan adanya pencampuran cairan rokok elektrik dengan zat berbahaya seperti etomidate menjadi perhatian serius, terutama karena maraknya penggunaan vape di kalangan generasi muda.
"BNN berkomitmen untuk terus memperluas kolaborasi, memperkuat pertukaran informasi, serta mengintegrasikan upaya pencegahan dan penindakan, guna memastikan penanganan narkotika berjalan lebih efektif dan berkelanjutan di tingkat nasional," ujar jenderal polisi bintang tiga itu.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono menekankan sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keamanan nasional. Dia turut menyoroti keterkaitan antara narkotika dan terorisme di tingkat global (narcoterrorism), termasuk praktik pendanaan terorisme melalui perdagangan narkoba yang terjadi di berbagai kawasan maupun dalam sejarah kelompok teroris.
"Ini sesuai dengan prioritas kerja kami dalam memperkuat sinergi pertahanan dan keamanan nasional," ujar Eddy.

Ilustrasi radikalisme. Foto: Dok/Medcom.id
BNPT juga menjalankan program pembinaan narapidana terorisme (napiter) secara bertahap dari risiko tinggi ke menengah, dengan pendekatan yang lebih terbuka namun tetap dalam pengawasan. Program tersebut terintegrasi dengan proses reintegrasi sosial melalui pelatihan keterampilan, pendampingan, serta pendekatan kepada masyarakat sebelum warga binaan kembali ke lingkungan sosialnya.
Adapun, pernyataan ini disampaikan dalam kunjungan kerja ke Kantor BNPT di Bogor, Jawa Barat, Kamis, 9 April 2026. Kunjungan itu menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi antar lembaga dalam menghadapi ancaman narkotika dan terorisme.
Kegiatan turut diisi dengan peninjauan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai sarana pelatihan keterampilan bagi warga binaan, meliputi bidang otomotif, tata udara (AC), kelistrikan, peternakan, menjahit, dan kerajinan kayu. Pada beberapa bidang, peserta memperoleh sertifikat sebagai bekal pemberdayaan setelah kembali ke masyarakat, dengan dukungan instruktur BNPT serta kolaborasi pihak swasta.