Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Mentarimulia.co.id
Wall Street Menguat, Dow Jones Tembus 53.000
Husen Miftahudin • 3 September 2026 08:23
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penguatan terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dari level tertinggi baru-baru ini serta meredanya reli harga minyak.
Mengutip Xinhua, Kamis, 3 September 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 295,07 poin atau 0,56 persen menjadi 53.061,95. Indeks S&P 500 bertambah 35,13 poin atau 0,46 persen ke level 7.666,60. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite menguat 118,05 poin atau 0,45 persen menjadi 26.217,83.
Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau. Sektor material memimpin penguatan dengan kenaikan 1,53 persen, disusul sektor jasa komunikasi yang naik 1,16 persen.
Sebaliknya, sektor real estat menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan 0,79 persen.
Ketegangan AS-Iran jadi perhatian
Meski ditutup menguat, Wall Street menghadapi awal September yang penuh tekanan. Ketegangan militer antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pasar.
Kedua pihak kembali terlibat dalam aksi mogok kerja untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. Perkembangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta potensi suku bunga yang lebih tinggi.
Pernyataan bernada hawkish dari Federal Reserve (The Fed) turut memengaruhi sentimen pasar. Ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga pada September juga semakin menjadi perhatian investor.
Pelaku pasar kini menantikan data nonfarm payrolls AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja sekaligus arah kebijakan suku bunga The Fed. Pertumbuhan lapangan kerja yang kuat dapat memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Saham Broadcom tertekan
Di sisi korporasi, saham Broadcom melemah setelah perusahaan menyampaikan proyeksi pendapatan kuartal keempat fiskal yang berada di bawah ekspektasi pasar. Saham pembuat chip tersebut sempat turun hingga 3 persen dalam perdagangan setelah jam pasar.
Broadcom memproyeksikan pendapatan kuartal keempat fiskal sebesar USD34,8 miliar. Adapun pendapatan pada kuartal ketiga fiskal sedikit berada di atas perkiraan Wall Street.
Namun, saham Broadcom berhasil memangkas sebagian besar kerugiannya setelah perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan chip kecerdasan buatan (AI) untuk tahun fiskal 2027 dan 2028. Broadcom memperkirakan pendapatan dari chip AI dapat berlipat ganda menjadi sekitar USD230 miliar pada tahun fiskal 2028.
Meski mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan terhadap chip AI kustom, kinerja saham Broadcom sepanjang 2026 masih relatif terbatas. Saham perusahaan tersebut tercatat naik sekitar 6 persen sepanjang tahun ini. Kinerja tersebut berada di bawah sejumlah perusahaan sejenis dan indeks SOX yang telah menguat 54 persen sepanjang 2026.
Kekhawatiran mengenai tingginya belanja AI serta meningkatnya persaingan dari perusahaan lain, termasuk Marvell Technology Inc., turut menekan saham Broadcom dalam beberapa bulan terakhir.
Pergerakan saham lainnya datang dari Hewlett Packard Enterprise Co. Saham perusahaan tersebut merosot lebih dari lima persen. Penurunan terjadi setelah perusahaan mengindikasikan adanya potensi tekanan terhadap margin keuntungan serta hambatan pada rantai pasokan.