Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Rupiah Ditutup di Level Rp17.988/USD
Husen Miftahudin • 11 June 2026 15:39
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 11 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.988,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 44,5 poin atau setara 0,25 persen dari posisi Rp17.944 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 44,5 poin, sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp17.988,5 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.985 per USD. Mata uang Garuda tersebut juga berada di zona merah dengan mengalami pelemahan 19 poin atau setara 0,11 persen dari Rp17.966 per USD.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.981 per USD turun 10 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.971 per USD.
| Baca juga: Rupiah Turun 0,13% ke Level Rp17.968 di Kamis Pagi |
Diserang AS, Iran tutup lagi Selat Hormuz
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen komando militer gabungan tertinggi Iran yang mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, dengan mengatakan setiap kapal yang mencoba melewatinya akan ditembak.
"Blokade Iran selama berbulan-bulan terhadap selat tersebut, yang biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas global, telah membuat harga minyak tetap tinggi," ungkap Ibrahim.
Namun, militer AS mengatakan kapal komersial terus melintas masuk dan keluar dari selat tersebut. Mereka juga mengatakan tidak ada kapal perang AS yang terkena serangan di selat tersebut, setelah media pemerintah Iran melaporkan kapal-kapal AS di dekat jalur air tersebut menjadi sasaran rudal dan drone.
Pasukan AS mulai melancarkan serangan tambahan terhadap beberapa target di Iran pada pukul 17.15. Pukul 21:15 EDT, serangan terbaru dalam serangkaian serangan yang semakin meningkat dan mengancam akan menyulut kembali perang skala penuh, yang sempat terhenti pada awal April ketika kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang rapuh.
Selain itu, data menunjukkan harga konsumen AS naik 4,2 persen (yoy) pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, laju tercepat dalam tiga tahun, sebagian besar didorong oleh biaya energi yang lebih tinggi.
"Laporan inflasi memperkuat ekspektasi pasar dimana Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dan bahkan dapat melanjutkan pengetatan kebijakan moneter akhir tahun ini jika tekanan harga terus berlanjut," papar Ibrahim.
Kontrak berjangka suku bunga sekarang menunjukkan peningkatan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga Fed sebelum akhir tahun, sebuah perubahan tajam dari ekspektasi awal tahun ini. Investor sekarang menunggu data harga produsen AS yang akan dirilis Kamis nanti untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek inflasi dan jalur kebijakan Fed.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Defisit APBN Indonesia bakal terus melebar
Di sisi lain, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan defisit APBN 2026 Indonesia akan melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal, yaitu tiga persen berdasarkan produk domestik bruto (PDB). Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah.
Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB. Angka proyeksi defisit 3,0 persen pada 2026 ini juga tercatat meningkat dibandingkan dengan realisasi defisit pada 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB. Adapun, pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh tekanan harga komoditas global.
Harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB melalui peningkatan belanja subsidi BBM, apabila penahanan harga BBM bersubsidi dipertahankan. OECD mencatat Pemerintah Indonesia telah memberi sinyal kuat untuk mempertahankan defisit tetap berada di bawah pagu aman 3,0 persen dari PDB.
Untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah diyakini harus mengambil langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB. Langkah tersebut termasuk pemangkasan pengeluaran di sektor lain serta potensi pengenaan pajak durian runtuh (windfall taxes) kepada eksportir komoditas unggulan Tanah Air.
Dari sisi makroekonomi, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia akan melambat ke level 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali pulih ke level 5,0 persen pada 2027.
"Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi, di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja," terang Ibrahim.
Sementara itu, laju inflasi diproyeksikan akan merangkak naik ke posisi 3,4 persen pada 2026. Kenaikan ini dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.980 per USD hingga Rp18.030 per USD," jelas Ibrahim.