Pascalibur Lebaran, Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp16.895

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Pascalibur Lebaran, Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp16.895

Husen Miftahudin • 25 March 2026 10:04

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan setelah libur panjang Hari Raya Idulfitri mengalami penguatan, meski tipis.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 25 Maret 2026, rupiah hingga pukul 09.57 WIB berada di level Rp16.895 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat tipis 2,5 poin atau setara 0,01 persen dari Rp16.897,5 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.978 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Kemungkinan besar rupiah pada tanggal 25 Maret akan diperdagangkan cukup melebar dan melemah di level Rp16.990 per USD hingga Rp17.075 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Dolar AS Masih Tertekan
 

Investor masih pelototi gangguan minyak di Selat Hormuz


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen gangguan pengiriman minyak mentah di Selat Hormuz. Ini masih menjadi perhatian utama saat terjadi perang antara AS, Israel, dan Iran yang memasuki minggu ketiga dan belum ada satu kesepakatan pun gencatan senjata antara ketiga negara tersebut.

"Ini yang membuat harga minyak mentah dunia dan Brent crude oil mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita tahu bahwa sebelum perang, ini untuk Brent dan crude oil itu mengalami kenaikan sampai saat ini 33 persen, kemudian crude oil itu 37 persen," papar dia.

Walaupun Presiden AS Donald Trump sudah meminta terhadap negara-negara anggota NATO membantu menyelesaikan masalah Selat Hormuz, kata Ibrahim, tapi Selat Hormuz sampai saat ini masih ditutup.

Di sisi lain, pemerintahan Iran mengatakan bahwa diperbolehkan kapal-kapal yang tidak ada hubungan dengan AS-Israel untuk bisa melewati Selat Hormuz.

Artinya, ungkap Ibrahim, Iran hanya berfokus terhadap perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan AS dan Israel, ini pun berdampak negatif terhadap kenaikan harga minyak mentah yang terus menerus mengalami kenaikan.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Upaya pemerintah tangkal pelebaran defisit


Di sisi lain, secara internal pemerintah akhirnya akan melakukan bagaimana caranya defisit anggaran tetap bertahan di bawah tiga persen. Meskipun pemerintah sebelumnya mengakui akan terjadi defisit anggaran di atas tiga persen, bahkan di atas empat persen.

"Tetapi rupanya pemerintah mengkaji ulang bagaimana cara defisit anggaran itu di bawah tiga persen dengan cara mengurangi beban-beban anggaran, biaya-biaya yang tidak perlu dilakukan," urai Ibrahim.

Sementara itu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI-Rate di leve 4,75 persen. Termasuk tidak mengubah deposit facility yang masih tetap di 3,75 persen serta bunga lending yang masih 5,50 persen.

"Kenapa BI masih tetap mempertahankan suku bunga tinggi sampai saat ini, karena kita melihat bahwa kondisi ekonomi global yang tak menentu akibat perang Timur Tengah ini cukup luar biasa apalagi setelah harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan," urai dia.

Menurut Ibrahim, tugas dari Bank Indonesia mempertahankan suku bunga adalah untuk meredakan kondisi ekonomi, menjaga agar inflasi tetap stabil dua persen di 2026, dan guna untuk memicu pertumb ekonomi Indonesia di bulan-bulan berikutnya

"Kita melihat bahwa dalam perdagangan libur nanti kemungkinan besar rupiah ini akan berfluktiatif, BI pun juga tetap melakukan intervensi di pasar spot terutama di DNDF yang kita tahu kemungkinan besar dalam minggu-minggu krusial terjadi perang besr antara Iran dan AS yang cukup signifikan, dan ini yang membuat mata uang rupiah kemungkinan besar mengalami pelemahan di atas Rp17 ribu," papar Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)