Ilustrasi bitcoin. Foto: Freepik.
Inflasi dan Ketidakpastian Ekonomi Bikin Bitcoin Merosot ke USD71 Ribu
Husen Miftahudin • 19 March 2026 08:42
New York: Bitcoin merosot pada perdagangan Rabu waktu setempat, karena aset berisiko terpukul setelah Federal Reserve menyatakan ketidakpastian besar atas dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan ekonomi AS.
Eskalasi lebih lanjut dalam konflik Timur Tengah dan data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan juga membebani sentimen. Suasana semakin suram setelah sebuah laporan mengatakan bahwa bursa kripto Kraken telah menunda debut pasarnya.
Mengutip Investing.com, bitcoin turun sebanyak 4,5 persen menjadi USD71.004,2. Mata uang kripto terbesar di dunia itu sempat naik mendekati USD76 ribu pada sesi sebelumnya.
Selain bitcoin, altcoin juga turun mengikuti penurunan bitcoin, harga kripto secara keseluruhan juga mengalami penurunan pada perdagagan Rabu. Berikut daftar lengkapnya:
- Ethereum, kripto nomor 2 dunia, anjlok 6,1 persen menjadi USD2.188,74.
- XRP, kripto peringkat ke-3 dunia, turun 4,2 persen menjadi USD1,4631.
- Solana turun 5,2 persen, sedangkan Cardano turun 6,0 persen persen
- Di antara token meme, Dogecoin mengalami penurunan sebesar 5,7 persen.
| Baca juga: Redam Gejolak Inflasi Imbas Perang AS-Iran, Fed Ogah Ubah Suku Bunga |

(Ilustrasi. Foto: dok KBI)
Fed: Konflik Timur Tengah bikin ekonomi jadi tak pasti
Federal Reserve AS (The Fed) memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Dalam pernyataannya, FOMC menegaskan kembali komitmen kuatnya untuk mendukung lapangan kerja maksimal dan mengembalikan inflasi ke target dua persen. Dari 12 anggota FOMC, 11 memilih untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan meningkatkan inflasi dalam jangka pendek. "Dalam jangka pendek, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi secara keseluruhan," jelas dia.
Powell mengakui masih terlalu dini untuk mengetahui cakupan dan durasi potensi dampak konflik terhadap perekonomian. Meskipun demikian, ia menolak menggunakan kata "stagflasi" untuk menggambarkan perekonomian AS saat ini. "Saya akan menggunakan istilah stagflasi hanya untuk situasi yang jauh lebih serius," tegas dia.
The Fed memperkirakan inflasi akan mereda tahun ini, tetapi kemajuannya tidak akan sebesar yang diharapkan Fed. Soal suku bunga ke depan, bank sentral AS itu memperkirakan dua kali lagi penurunan suku bunga tahun ini.
Powell mengatakan hal itu dapat berubah jika inflasi tetap tinggi, dan menegaskan kembali kebijakan moneter Fed tidak mengikuti jalur yang tetap. "Kami akan membuat keputusan berdasarkan setiap pertemuan," urai dia.