Naik 14 Poin, Rupiah Balik Lagi ke Level Rp17.700 Pagi Ini

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.

Naik 14 Poin, Rupiah Balik Lagi ke Level Rp17.700 Pagi Ini

Husen Miftahudin • 22 June 2026 09:58

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini kembali mengalami penguatan setelah sempat melemah dalam beberapa perdagangan terakhir.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 22 Juni 2026, rupiah hingga pukul 09.48 WIB berada di level Rp17.790 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 14 poin atau setara 0,08 persen dari Rp17.804 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.821 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.800 per USD hingga Rp17.850 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Ditutup ke Rp17.804/USD


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Trump ancam serangan lanjutan ke Iran


Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang melontarkan ancaman serangan lanjutan terhadap Iran di tengah proses negosiasi damai yang masih berlangsung.

Ancaman tersebut dilontarkan jika Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Kelompok Hezbollah saat ini masih terlibat konflik dengan Israel di wilayah Lebanon Selatan, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam proses negosiasi damai.

Komentar Trump muncul ketika pejabat AS dan Iran sedang menggelar pembicaraan di Swiss untuk membahas kerangka kesepakatan penghentian perang. Meski demikian, media Iran melaporkan delegasi Teheran meninggalkan lokasi perundingan setelah pernyataan terbaru tersebut.

Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan delegasi Iran menolak kembali ke pembicaraan empat pihak. Kendati demikian, komunikasi masih berlangsung melalui mediator dari Pakistan dan Qatar.

(Husen Miftahudin)