Dolar AS Menguat, Cetak Kinerja Mingguan Terbaik sejak Juni

Mata uang dolar AS. Foto: Xinhua.

Dolar AS Menguat, Cetak Kinerja Mingguan Terbaik sejak Juni

Husen Miftahudin • 25 July 2026 08:23

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur mencatat kinerja mingguan terbaik dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Jumat waktu setempat. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah serta ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) untuk meredam tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 25 Juli 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia naik tipis menjadi 101,49. Secara mingguan, indeks tersebut menguat 0,7 persen, menjadi kenaikan terbesar sejak 19 Juni 2026.

Sementara itu, mengutip Xinhua, euro melemah ke USD1,1370 dari USD1,1377 pada perdagangan sebelumnya. Sebaliknya, poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3326 dari USD1,3318.

Dolar AS juga diperdagangkan di level 163,84 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 163,80 yen pada sesi sebelumnya. Terhadap franc Swiss, dolar menguat menjadi 0,8182 franc dari 0,8169 franc.

Mata uang AS turut menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,4096 dolar Kanada dari 1,4076 dolar Kanada. Sementara terhadap krona Swedia, dolar AS melemah menjadi 9,7158 dari 9,7663.
 

 

Konflik Timur Tengah dan tarif AS topang penguatan dolar


Penguatan dolar AS sepanjang pekan dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi setelah harga minyak melonjak tajam dan ketegangan geopolitik kembali meningkat.

Harga minyak mentah Brent sempat menembus USD100 per barel pada Kamis untuk pertama kalinya sejak Mei. Dalam dua pekan terakhir, harga minyak acuan global tersebut telah melonjak lebih dari 25 persen.

Kenaikan harga dipicu serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Serangan itu meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Bab el-Mandeb, selain Selat Hormuz, yang merupakan rute penting distribusi minyak dunia.

Di sisi lain, konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat AS menyatakan telah melancarkan serangan malam ke-13 secara berturut-turut terhadap Iran pada Kamis. Sebagai balasan, Teheran dilaporkan menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Ketegangan perdagangan turut memperkuat sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump pekan ini memberlakukan tarif baru dua digit terhadap impor dari 60 mitra dagang utama AS, hanya beberapa hari setelah mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap Kanada.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Pasar menanti keputusan suku bunga The Fed


Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve pekan depan. Kekhawatiran terhadap inflasi tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 14 basis poin sepanjang pekan, sedangkan imbal hasil obligasi tenor dua tahun meningkat lebih dari 16 basis poin.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan turun menjadi sekitar 62 persen dari sekitar 87 persen sepekan sebelumnya. Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi hampir 38 persen dari sekitar 13 persen.

Ekonom Senior Interactive Brokers José Torres menilai peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, meski tren disinflasi di AS tetap berlanjut. "Kenaikan suku bunga pada keputusan minggu depan masih mungkin terjadi, tetapi lintasan disinflasi masih tetap utuh, meskipun memburuk," ujar José Torres.

Menurut dia, inflasi dapat kembali mereda apabila ketegangan di Timur Tengah berkurang dan harga minyak kembali stabil. Torres juga menilai obligasi pemerintah AS tenor panjang masih menarik bagi investor apabila lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara.

"Jika kenaikan harga minyak ini bersifat sementara, maka membeli obligasi Treasury jangka panjang dapat memberikan manfaat luar biasa bagi portofolio, terutama menjelang Agustus dan September yang secara musiman cenderung lemah," kata Torres.

(Husen Miftahudin)