Harga Emas Dunia Berhasil Naik Meski Tertekan Ekspektasi Suku Bunga

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Dunia Berhasil Naik Meski Tertekan Ekspektasi Suku Bunga

Husen Miftahudin • 26 September 2026 08:40

Chicago: Harga emas dunia menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat, ditopang pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak.

Namun, emas diperkirakan mencatat penurunan secara mingguan akibat kenaikan dolar, kekhawatiran inflasi yang dipicu sektor energi, meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), serta aksi jual obligasi pemerintah AS.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 26 September 2026, harga emas spot naik 0,3 persen menjadi USD4.285,76 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka menguat 0,6 persen menjadi USD4.321,62 per ons.

Meski menguat pada perdagangan terakhir pekan ini, harga emas spot tercatat turun sekitar 2,1 persen sepanjang pekan. Harga emas berjangka juga melemah sekitar 2,3 persen.
 

 

Imbal hasil obligasi tekan harga emas


Pergerakan emas sepanjang pekan mendapat tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Aksi jual obligasi, terutama pada surat utang berjangka panjang, turut menjadi perhatian pelaku pasar logam mulia. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2007 pada awal pekan. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2004.

Pasar obligasi sebelumnya merespons kenaikan suku bunga The Fed pada pekan lalu sebagai sinyal bank sentral tetap berkomitmen mengendalikan inflasi.

Namun, pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish setelah keputusan tersebut, ditambah data aktivitas bisnis AS yang kuat, mendorong peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat.

Lingkungan suku bunga tinggi cenderung menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil, termasuk emas. Kondisi tersebut juga dapat menopang dolar AS sehingga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Harga minyak berbalik turun


Di pasar komoditas energi, harga minyak mentah turun pada perdagangan Jumat setelah menguat selama dua hari sebelumnya. Pelemahan terjadi setelah laporan mengenai penjajakan kesepakatan bertahap antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pelaku pasar memilih mencermati laporan tersebut meski belum ada terobosan diplomatik resmi antara Washington dan Teheran sepanjang pekan.

Harga minyak bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir. Pada awal pekan, harapan terhadap kemajuan diplomatik AS-Iran meningkat setelah delegasi kedua negara menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Namun, ekspektasi tersebut mereda setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan keras dalam forum PBB. Trump kemudian mengonfirmasi pada Selasa mengenai berlangsungnya pembicaraan tidak langsung antara perwakilan AS dan Iran di sela-sela agenda PBB.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu meredam ekspektasi terhadap pembicaraan tersebut. Ia mengatakan diskusi itu belum dapat disebut sebagai terobosan besar dan lebih merupakan kelanjutan dari pembicaraan sebelumnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei pada Kamis mengatakan sejumlah pesan telah dipertukarkan dengan AS melalui mediasi Qatar. Teheran juga telah menyampaikan sejumlah syarat untuk kembali bernegosiasi.

Syarat tersebut mencakup penghentian tindakan agresif AS, termasuk blokade angkatan laut dan sanksi ekonomi, penghentian perang di berbagai lini, pembebasan aset Iran yang dibekukan atau dibatasi, serta jaminan jalur pelayaran yang aman melalui kesepakatan kedua negara pesisir.

(Husen Miftahudin)