Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com
Harga Emas Dunia Melemah di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Husen Miftahudin • 25 September 2026 08:39
Chicago: Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan Kamis waktu setempat, melanjutkan penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Pergerakan emas tertekan meningkatnya spekulasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih lanjut tahun ini.
Mengutip Investing.com, Jumat, 25 September 2026, harga emas spot turun 0,3 persen menjadi USD4.275,09 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 0,2 persen menjadi USD4.310,60 per ons.
Emas sensitif terhadap perubahan prospek suku bunga The Fed. Investor mencermati dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Tekanan terhadap harga emas berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak. Harga minyak Brent kembali berada di atas USD100 per barel di tengah memudarnya harapan terhadap penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat terkait konflik Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Iran tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama blokade dan sanksi AS masih berlaku.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan timnya telah melakukan pembicaraan dengan para utusan Iran di sela-sela Sidang Umum PBB. Trump menyebut pembicaraan tersebut berjalan sangat baik, meski sebelumnya menyampaikan ancaman keras terhadap Iran. Kenaikan harga minyak kembali meningkatkan perhatian investor terhadap potensi tekanan inflasi dari sektor energi.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed meningkat
Investor juga mencermati data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh dengan laju tercepat dalam lebih dari lima tahun pada September. Kondisi tersebut, ditambah kenaikan harga energi, meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai sekitar 77,5 persen, meningkat dari 55,4 persen sepekan sebelumnya. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember juga meningkat menjadi lebih dari 58 persen, dari 41,7 persen pada pekan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi tersebut turut memicu aksi jual di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun, yang bergerak berlawanan dengan harga obligasi, mencatat kenaikan terbesar sejak April 2025. Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi salah satu faktor yang turut menekan harga emas.
Pada pertemuan September, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kebijakan tersebut ditempuh untuk meredam tekanan inflasi yang masih meningkat, meski kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.
Analis Britannia Global Markets turut mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Analis menilai kesepakatan yang lebih luas atau konsesi terkait aliran mineral penting dapat memberikan dukungan terhadap harga logam. Sebaliknya, kegagalan mencapai kesepakatan dapat kembali meningkatkan risiko tarif.