Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Antara.
BI Tegaskan Fokus Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Gubernur Berganti
Husen Miftahudin • 31 July 2026 14:35
Jakarta: Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan arah kebijakan moneter bank sentral tidak berubah meski terjadi pergantian kepemimpinan. BI tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
"Saya ingin menekankan dengan formasi kami sekarang saat ini, posisi kebijakan Bank Indonesia tetap sama. Tidak berubah dibandingkan dengan stance sebelumnya," kata Destry dalam pertemuan dengan redaktur media massa secara daring dari Parapat, Sumatra Utara, dikutip dari Antara, Jumat, 31 Juli 2026.
Perubahan kepemimpinan di Bank Indonesia terjadi setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada Sabtu, 26 Juli 2026, mengakhiri masa kepemimpinannya selama delapan tahun.
Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, apabila terjadi kekosongan jabatan gubernur, tugas tersebut dijalankan sementara oleh Deputi Gubernur Senior sebagai Pejabat Sementara (Pjs) hingga Presiden mengajukan calon gubernur definitif yang mendapat persetujuan DPR.
Fokus jaga stabilitas rupiah
Destry mengatakan BI akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral juga tetap hadir di pasar melalui intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna menjaga stabilitas sektor eksternal.
Menurut dia, ketidakpastian ekonomi global masih tinggi, terutama akibat ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang diperkirakan bertahan lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, Destry juga menuturkan keputusan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen, disertai sinyal potensi kenaikan suku bunga ke depan, menjadi salah satu faktor yang terus dicermati BI.
Selain dinamika inflasi global, kondisi tersebut menjadi alasan BI tetap mengedepankan stabilitas nilai tukar dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pecut pertumbuhan ekonomi
Di samping menjaga stabilitas moneter, BI memastikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kebijakan makroprudensial, pengembangan sistem pembayaran, serta peningkatan fungsi intermediasi perbankan agar penyaluran kredit kepada dunia usaha, termasuk UMKM dan sektor prioritas, terus meningkat.
BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Dalam pengendalian inflasi pangan, BI melanjutkan sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
"Kami tetap memfokuskan stabilitas dengan mengoptimalkan berbagai instrumen dan berbagai kebijakan yang kami miliki. Untuk pertumbuhan, tentu kami akan mengoptimalkan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, termasuk kebijakan kami dalam mengembangkan UMKM, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau," ujar Destry.