Rupiah Turun ke Rp17.547 per USD

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Rupiah Turun ke Rp17.547 per USD

Ade Hapsari Lestarini • 10 September 2026 17:19

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.547 per USD pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.511 per USD. Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru menguat ke level Rp17.536 per USD dari sebelumnya Rp17.552 per USD.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap investor yang cenderung menunggu rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat.

"Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat, 11 September 2026 malam," kata dia, dilansir Antara, Kamis, 10 September 2026.

Menurut dia, kedua data tersebut menjadi indikator penting bagi pasar untuk melihat arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
 

 

Konsolidasi mata uang rupiah


Pelemahan rupiah juga mencerminkan konsolidasi setelah mata uang Garuda menguat cukup signifikan pada perdagangan sebelumnya.

"Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah," ujar Amru.

Di sisi lain, harga minyak yang masih berada di atas USD100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek suku bunga.

Dalam jangka pendek, Amru memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat dan bergerak dalam kisaran Rp17.450-Rp17.600 per USD.

"Penguatan menuju area Rp17.450 akan lebih terbuka apabila pelemahan dolar berlanjut, sementara data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah," kata dia.

(Ade Hapsari Lestarini)