Harga Emas Dunia Melonjak, Sentuh Level Tertinggi dalam Sebulan

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com

Harga Emas Dunia Melonjak, Sentuh Level Tertinggi dalam Sebulan

Husen Miftahudin • 6 August 2026 08:50

Chicago: Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penguatan logam mulia didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 6 Agustus 2026, harga emas spot naik 4,4 persen menjadi USD4.258,18 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka menguat empat persen menjadi USD4.317,07 per troy ons. Kedua kontrak tersebut mencapai level tertinggi sejak 17 Juni dan berpotensi mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak awal Februari.
 
Kenaikan harga emas ini didorong sentimen positif dari perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dapat segera tercapai.
 
"Kita berjalan dengan sangat baik. Kita akan segera tahu. Kita akan tahu dalam 48 jam, menurut saya," kata Trump kepada wartawan. Trump menambahkan kemajuan dalam proses negosiasi terus berlangsung dan komunikasi antara kedua pihak semakin intensif.
 
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pembahasan bersama Oman masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pernyataan bersama masih dalam tahap finalisasi dengan syarat tidak ada pihak lain yang menghambat proses tersebut.
 
Media pemerintah Iran juga menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada komitmen Amerika Serikat terhadap kesepakatan perdamaian sementara yang disepakati pada Juni lalu.
 

 

Inflasi hingga dolar AS turun, daya tarik emas makin kuat

 
Pergerakan emas turut dipengaruhi prospek harga minyak dunia yang masih melemah sepanjang pekan ini. Penurunan harga minyak membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
 
Saat ini, pasar memperkirakan bank sentral AS hanya akan menaikkan suku bunga satu kali hingga akhir tahun, lebih rendah dibandingkan ekspektasi dua kali kenaikan pada pekan sebelumnya.
 
Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah umumnya meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
 
Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY) juga menyentuh level terendah dalam tujuh pekan. Pelemahan mata uang AS membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan terhadap logam mulia tersebut.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar menanti data ketenagakerjaan AS

 
Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Laporan ADP menunjukkan penambahan lapangan kerja sektor swasta hanya mencapai 44 ribu pada Juli, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 68 ribu maupun realisasi Juni yang mencapai 95 ribu.
 
Data tersebut memperkuat sinyal perlambatan pasar tenaga kerja menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat.
 
Sementara itu, Institute for Supply Management (ISM) melaporkan aktivitas sektor jasa AS meningkat tipis menjadi 54,1 pada Juli dari 54,0 pada Juni. Meski aktivitas ekonomi masih berada di zona ekspansi, indeks harga tetap bertahan di atas level 70, mencerminkan tekanan inflasi yang masih relatif tinggi di sektor jasa.
 
Perkembangan data tenaga kerja dan inflasi tersebut diperkirakan akan menjadi pertimbangan penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga pada periode mendatang.

(Husen Miftahudin)