Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Naik Tipis Jelang Keputusan The Fed
Eko Nordiansyah • 22 October 2026 08:25
Chicago: Harga emas mencatatkan kenaikan tipis pada Rabu, 21 Oktober 2026, di tengah naiknya harga minyak dan dolar AS yang sedikit lebih kuat.
Dengan minimnya agenda ekonomi AS serta periode jeda komunikasi (blackout period) yang dijalani Federal Reserve menjelang keputusan kebijakan moneter pekan depan, para pelaku pasar logam mulia tidak memiliki banyak katalis berita.
Dikutip dari Investing, Kamis, 22 Oktober 2026, harga emas spot naik 0,4 persen menjadi USD4.141,28 per ons, sementara emas berjangka (futures) naik 0,2 persen menjadi USD4.159,50 per ons.
Harga emas telah turun lebih dari satu persen sejak awal pekan dan masih melemah sekitar seperlima nilainya sejak konflik Iran meletus pada akhir Februari, yang mengganggu pasar energi dan mendorong kenaikan harga minyak.
Kekhawatiran mengenai inflasi yang dipicu oleh sektor energi telah memperkuat spekulasi bank sentral, termasuk Federal Reserve, mungkin perlu memperketat kebijakan moneter. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets), seperti emas.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, Federal Open Market Committee (FOMC) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap pada pekan depan, kemudian menaikkannya sebesar seperempat poin persentase pada Desember.
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Kenaikan harga minyak
Di tengah situasi ini, para pedagang emas pada Rabu lebih banyak memantau pergerakan harga minyak.Harga minyak mentah Brent acuan ditutup naik 1,1 persen menjadi USD109,96 per barel. Kenaikan ini terjadi karena potensi kemajuan diplomatik antara Rusia dan Ukraina diimbangi oleh tidak adanya terobosan berarti dalam pertemuan antara pejabat Pakistan dan Iran.
Pada Selasa, Presiden Donald Trump menyampaikan kepada para wartawan di Amerika Serikat, ia terbuka untuk mengadakan pertemuan tiga pihak yang belum pernah terjadi sebelumnya, melibatkan Tiongkok dan Rusia, guna membahas senjata nuklir dan denuklirisasi, yang mungkin dapat terlaksana paling cepat bulan depan.
Pernyataan pemimpin AS tersebut muncul di saat ia berupaya menunjukkan hubungan yang bersahabat dengan Tiongkok maupun Rusia, meskipun kedua negara tersebut tetap menjalin hubungan yang erat satu sama lain. Pada hari Rabu, pihak Kremlin menyatakan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, telah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menurut pernyataan Kremlin, Putin mendiskusikan kemungkinan diadakannya pertemuan di Tiongkok bersama Witkoff, sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Witkoff dan Trump atas perhatian mereka dalam upaya penyelesaian konflik Ukraina.
Konflik di Timur Tengah disorot
Sementara itu, di Timur Tengah, harga minyak Brent sempat turun dari level tertinggi dalam lebih dari lima bulan pada Selasa, menyusul laporan yang belum terkonfirmasi mengenai usulan dari Qatar dan Pakistan untuk menghidupkan kembali perundingan guna mengakhiri konflik yang melibatkan Iran.Media pemerintah Iran melaporkan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, mengunjungi Teheran pada hari Selasa bersama delegasi pejabat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bertemu dengan Munir dan menegaskan bahwa AS tidak akan bisa "mendapatkan" kepercayaan Iran tanpa memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti penghentian seluruh permusuhan dan pencabutan pembekuan aset-aset negara tersebut.
Media pemerintah juga menyebutkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan kepada Munir "untuk negosiasi apa pun," AS harus terlebih dahulu "menghilangkan tekanan, ancaman, dan sanksi." Iran baru-baru ini meningkatkan serangannya terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Mengutip data dari Kpler, Reuters pada Rabu menyatakan 18 kapal telah menjadi sasaran dalam dua minggu terakhir.
Sementara itu, Financial Times melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak untuk melanjutkan serangan berskala besar terhadap Iran.