Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp17.632/USD di Selasa Sore

Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI/Ramdani.

Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp17.632/USD di Selasa Sore

Husen Miftahudin • 8 September 2026 16:14

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penguatan tipis.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 8 September 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.632 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik tipis delapan poin atau setara 0,05 persen dari posisi Rp17.640 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat tipis delapan poin, sebelumnya sempat menguat 40 poin di level Rp17.632 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.640 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.625 per USD. Rupiah juga menguat tipis enam poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.631 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.618 per USD naik sebanyak 35 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.653 per USD.
 

 

Iran ancam infrastruktur migas wilayah Teluk


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh para pejabat Iran yang memperingatkan infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi sasaran balasan atas serangan terhadap aset-asenya.

"Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas ini juga menghadapi risiko kerentanan yang sama. Serang aset kami, maka Anda akan diserang balik. Kami telah membuktikannya," ungkap Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.

Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama bagi pasar minyak. Iran menyatakan akan memberlakukan zona pembatasan baru di Teluk serta koridor pelayaran alternatif; langkah ini memicu kekhawatiran bahwa pengetatan pengawasan maritim dapat semakin memperlambat lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur perairan strategis tersebut.

Namun, lalu lintas justru meningkat di Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur perairan utama lainnya bagi kapal-kapal pengangkut komoditas. Data Kpler menunjukkan bahwa total 29 kapal pengangkut komoditas melintasi Bab el-Mandeb pada hari Senin, meningkat dari 17 kapal pada hari sebelumnya.

Meski demikian, adanya tanda-tanda diplomasi memberikan sedikit penyeimbang terhadap lonjakan harga tersebut. Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai pengaturan di Selat Hormuz sudah hampir tercapai, yang berpotensi menyediakan mekanisme untuk meredakan gangguan pelayaran.

Fokus pasar selanjutnya adalah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan akan rilis pada hari Kamis, diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada hari Jumat. Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

"Pasar terus memperhitungkan peluang sekitar 60 persen bagi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan, yang mencerminkan dampak dari laporan nonfarm payrolls AS yang kuat pada pekan lalu," urai Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Posisi cadev Indonesia capai USD146,5 miliar 


Di sisi lain, lanjut Ibrahim, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia mencapai USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dibandingkan posisi pada akhir Juli 2026 yang sebesar USD145,3 miliar.

BI menyebut kenaikan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

BI mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan impor.

Kondisi cadangan devisa tersebut mampu menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap baik. Keyakinan tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing. BI menyebut persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor pendukung aliran modal asing ke Indonesia.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.630 per USD hingga Rp17.670 per USD," jelas Ibrahim.

(Husen Miftahudin)