Rupiah Pagi Ini Turun 35 Poin ke Rp17.417

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Pagi Ini Turun 35 Poin ke Rp17.417

Husen Miftahudin • 11 May 2026 09:58

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penurunan.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 11 Mei 2026, rupiah hingga pukul 09.50 WIB berada di level Rp17.417 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 35 poin atau setara 0,20 persen dari Rp17.382 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.370 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.380 per USD hingga Rp17.430 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Dolar AS Menguat setelah Trump Geram Respons Iran atas Proposal Perdamaian
 

Ketegangan kawasan Teluk meningkat


Pada Minggu, Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan Teheran terhadap kerangka perdamaian yang diusulkan Washington. Komentar tersebut meredam harapan akan meredanya ketegangan dalam waktu dekat di kawasan Teluk.

Proposal asli AS dilaporkan bertujuan untuk menghentikan aktivitas pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, menghilangkan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan membongkar fasilitas nuklir utama sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.

Melalui mediator Pakistan, Iran menanggapi proposal perdamaian tersebut dengan menuntut pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan atas hak Iran untuk melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.

Wall Street Journal melaporkan Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga. Di sisi lain, para investor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Utang pemerintah tembus Rp9.920,42 triliun


Ibrahim mengungkapkan, utang pemerintah sampai dengan 31 Maret 2026 tembus Rp9.920,42 triliun. Posisi ini naik hampir tiga persen dari level periode sampai Desember 2025 yaitu Rp9.637,9 triliun. Posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal I-2026 itu setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).  

Perhitungan rasio utang terhadap PDB ini didapatkan dari membagi outstanding utang terbaru yakni Rp9.637,9 triliun, serta akumulasi PDB harga berlaku terbaru yaitu kuartal I-2026 (Rp6.187,2 triliun) dan tiga kuartal sebelumnya yang keseluruhan mencapai Rp24.341,4 triliun. 

"Pemerintah mengelola utang secara cermat dan terukur untuk mencapai portofolio utang yang optimal dan mendukung pengembangan pasar keuangan domestik," jelas dia.

Pemerintah terus memperbaiki kinerja penerimaan negara untuk mengimbangi pesatnya kebutuhan pembiayaan APBN. Kendati rasio utang relatif masih di bawah standar internasional yakni 60 persen terhadap PDB, berbagai lembaga internasional turut memerhatikan rasio utang maupun bunganya terhadap penerimaan.  

Sampai dengan kuartal I-2026, defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Pembiayaan utang pun sudah terealisasi Rp258,7 triliun atau 31,1 persen terhadap PDB. Penerimaan negara, khususnya perpajakan, dinilai sebagai kunci usai lembaga pemeringkat blak-blakan memberi peringatan ke Purbaya ihwal rasio pembayaran bunga utang terhadap PDB. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)