BI Bakal Tahan Suku Bunga Lagi di Tengah Tekanan Eksternal

Ilustrasi, RDG Bank Indonesia. Foto: Tangkapan layar YouTube BI.

BI Bakal Tahan Suku Bunga Lagi di Tengah Tekanan Eksternal

Husen Miftahudin • 17 March 2026 12:27

Jakarta: Sejumlah ekonom sepakat BI-Rate diperkirakan tetap bertahan pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Maret 2026 yang hasilnya diumumkan Selasa siang ini, seiring dengan masih kuatnya tekanan eksternal yang mendorong pelemahan rupiah.

"Tekanan eksternal masih cukup kuat dan daya tarik aset rupiah perlu dipertahankan," kata Kepala Ekonom BCA David Sumual saat dihubungi di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menambahkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih bergantung pada seberapa cepat perang antara Amerika Serikat (AS)-Iran berakhir dan outlook sovereign rating Indonesia ke depan.

Dihubungi terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan konflik yang berkepanjangan akan berdampak pada kenaikan harga minyak global dan inflasi global.

Pasar juga telah merevisi prospek pemotongan suku bunga The Fed, yang kini diperkirakan hanya terjadi satu kali pada tahun ini, kemungkinan pada Desember 2026.

Artinya, imbuh Faisal, ruang pemotongan BI-Rate juga akan semakin terbatas dan dalam jangka pendek BI-Rate cenderung digunakan untuk menjaga stabilitas. "Jika Fed rate cut sekali terjadi, kemungkinan BI Rate cut juga terjadi sekali di tahun ini," kata dia.

Namun, jika tensi geopolitik semakin meningkat dan berlangsung lama, serta harga minyak bertahan di atas USD100 per barel, maka ada kemungkinan tidak terjadi pemotongan suku bunga, bahkan beralih ke sikap yang lebih hawkish (menaikkan suku bunga).
 

Baca juga: Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate 4,75%


(Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani)
 

Rupiah masih dibayangi faktor eksternal


Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman memandang peluang penguatan rupiah tetap ada, tetapi dalam jangka pendek masih dibayangi faktor eksternal yang kuat.

Menurut dia, penguatan rupiah dan masuknya kembali arus modal asing baru akan lebih solid jika stabilitas global membaik dan fundamental domestik terutama fiskal, inflasi, serta kredibilitas kebijakan tetap terjaga.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan per 12 Maret 2026, Indonesia mencatat total arus keluar modal sebesar USD0,63 miliar dalam 30 hari terakhir (dibandingkan dengan 13 Februari 2026), dan arus keluar sebesar USD0,75 miliar sejak awal meletusnya perang AS-Iran.

Seiring dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah mengalami kenaikan baik pada tenor pendek maupun panjang, di mana tenor 1 tahun meningkat 83 basis poin dari 4,82 persen pada 18 Februari 2026 menjadi 5,65 persen pada 13 Maret 2026, sementara tenor 10 tahun naik 36 basis poin dari 6,39 persen menjadi 6,75 persen pada periode yang sama.

"Kenaikan imbal hasil pada kedua tenor secara bersamaan mengindikasikan pasar tengah memperhitungkan ketidakpastian yang meningkat terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek yang didorong oleh arus keluar modal, tekanan nilai tukar, serta potensi memburuknya kondisi fiskal akibat guncangan harga minyak," jelas Riefky.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)