Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Tergelincir, Brent Jeblok 2,6% ke Level USD104/Barel
Husen Miftahudin • 12 September 2026 09:33
Houston: Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Jumat waktu setempat, mengakhiri kenaikan selama beberapa hari berturut-turut. Penurunan terjadi setelah muncul laporan Iran dan Oman bertemu dengan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Meski terkoreksi, harga minyak masih berada di jalur kenaikan sekitar 20 persen dalam dua pekan terakhir. Pasar tetap dibayangi kekhawatiran gangguan pasokan minyak akibat kembali meningkatnya serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta meluasnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 12 September 2026, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November sebagai patokan global turun 2,6 persen menjadi USD104,79 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober turun 2,1 persen menjadi USD100,31 per barel.
Penurunan tersebut mengakhiri reli Brent selama lima hari dan WTI selama 10 hari. Kedua kontrak juga sempat menembus level USD100 per barel pada pekan ini untuk pertama kalinya sejak akhir Mei. Dalam dua pekan terakhir, harga Brent telah naik 18,9 persen, sedangkan WTI melonjak 20,3 persen.
Pertempuran di Teluk kembali meningkat
Menteri luar negeri negara-negara Teluk berencana bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran untuk membahas kesepakatan terkait pengelolaan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Financial Times melaporkan pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin di Salalah, Oman, dengan mengutip dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Pada Agustus, Iran dan Oman mengisyaratkan tengah bernegosiasi mengenai kesepakatan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun, AS disebut sebagian besar menentang perjanjian tersebut dan memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak bernegosiasi dengan Iran.
Sementara itu, serangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat pada pekan ini setelah aktivitas militer kedua negara memanas sejak pekan lalu. Sebelumnya, kedua pihak terlibat kebuntuan terkait penguasaan Selat Hormuz. Dalam beberapa hari terakhir, intensitas serangan disebut mencapai level tertinggi sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
AS menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran sebagai respons terhadap penargetan kapal perang Angkatan Laut AS oleh Korps Garda Revolusi Islam. Iran kemudian merespons dengan menyerang dua kapal AS, delapan kapal tanker minyak, 10 kapal yang didukung AS, serta sebuah pangkalan militer AS di Yordania.
Presiden AS Donald Trump mengatakan perang akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS. Namun, laporan Wall Street Journal menyebut penasihat utama Trump memperingatkan konflik dapat berlangsung hingga akhir masa jabatan presiden AS pada Januari 2029. Saat ditanya mengenai laporan tersebut pada Kamis, Trump mengatakan "bahkan tidak ada kemungkinan" perang berlangsung selama itu.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot
Di tengah ketegangan tersebut, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun menjadi tujuh kapal pada Kamis. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata pergerakan 10 hari sebanyak 15 kapal, berdasarkan data pelayaran yang dikutip Reuters. Konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi pada pekan ini juga menambah kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Laporan media menyebut Houthi telah merebut pelabuhan penting di Yaman dalam upaya menguasai wilayah pesisir Laut Merah. Kondisi tersebut berpotensi memberikan pengaruh terhadap Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting bagi produsen minyak utama di kawasan Teluk.
Pada Jumat, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan Pipa Timur-Barat di wilayah Riyadh dan Madinah menjadi sasaran beberapa serangan pada pagi hari sebelumnya. Pipa tersebut kemudian ditutup.
Di AS, perhatian pasar juga tertuju pada kenaikan harga energi. Harga rata-rata nasional diesel AS pada Kamis menembus USD6 per galon untuk pertama kalinya dalam sejarah. Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap konsumen di tengah lonjakan harga minyak global.
Data ekonomi AS pada Jumat juga menunjukkan harga bensin menyumbang lebih dari sepertiga kenaikan indeks harga konsumen (CPI) sebesar 0,4 persen secara bulanan pada Agustus. Laporan CPI tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 September.
Pergerakan harga minyak, kenaikan harga energi, serta data inflasi AS menjadi faktor yang diperhatikan pasar menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pada pekan depan.