Dolar AS Melemah Jelang Data Inflasi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Dolar AS Melemah Jelang Data Inflasi

Eko Nordiansyah • 9 September 2026 08:52

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Selasa, 8 September 2026, mengalami jeda setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya akibat meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Lonjakan tajam nilai yen Jepang terus menjadi pusat perhatian pasar mata uang.

Dikutip dari Investing, Rabu, 9 September 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen ke level 98,86. Indeks ini sebelumnya sempat naik 0,3 persen pada Jumat.

Yen sedikit melemah setelah mencapai level tertinggi

Yen terakhir tercatat sedikit melemah di posisi 154,22, setelah sebelumnya sempat menyentuh angka 152,89, level terkuatnya terhadap dolar sejak 30 Januari. Penguatan tajam mata uang ini didorong oleh penyesuaian signifikan terhadap arah kebijakan moneter Jepang, yang diperkuat oleh data ekonomi yang solid serta dukungan eksplisit dari pemerintah.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Jepang direvisi naik pada Selasa, menunjukkan ekspansi tahunan sebesar 1,4 persen pada kuartal April-Juni, melampaui estimasi awal sebesar 1,1 persen. Data tersebut semakin memperkuat argumen bagi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ) pada akhir bulan ini, dengan probabilitas langkah tersebut kini mencapai 75 persen.

Yen mencatatkan kinerja mingguan terbaiknya sejak akhir Juli, saat otoritas di Washington dan Tokyo memberikan dukungan melalui intervensi gabungan yang bersejarah.

Meskipun spekulasi mengenai intervensi juga marak terjadi pekan lalu, para pelaku pasar mata uang menilai meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga sebagai faktor pendorong utama, di tengah komentar bernada hawkish dari para pembuat kebijakan BoJ, seperti Gubernur Kazuo Ueda dan anggota dewan Hajime Takata.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Selasa menegaskan kembali sikap mata uang Tokyo tetap selaras dengan Washington pasca-operasi intervensi gabungan, serta mengonfirmasi bahwa ia terus berkomunikasi secara intens dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Termasuk langkah gabungan tersebut, Jepang telah menghabiskan dana sebesar rekor 15 triliun yen (USUSD97,18 miliar) dari tanggal 30 Juli hingga 26 Agustus untuk memperkuat mata uangnya.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Data inflasi AS berpotensi dorong kenaikan suku bunga The Fed

Di sisi lain, pergerakan dolar selanjutnya kemungkinan besar akan ditentukan oleh data penting inflasi AS minggu ini. Jumat lalu, laporan ketenagakerjaan Agustus yang sangat kuat memicu perubahan cepat dalam prospek kebijakan moneter The Fed.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 162 ribu lapangan kerja sektor non-pertanian (nonfarm payrolls) pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari angka perkiraan sebesar 55 ribu. Tingkat pengangguran tetap tidak berubah di angka 4,1 persen. Sementara itu, total lapangan kerja non-pertanian untuk bulan Juni dan Juli direvisi naik dengan total gabungan sebesar 55 ribu.

Data tersebut mengisyaratkan pasar tenaga kerja AS yang sangat tangguh dan, dikombinasikan dengan inflasi yang tetap tinggi, menunjukkan ekonomi yang mengalami overheating (terlalu panas) akibat tekanan harga.

Dalam skenario seperti itu, bank sentral biasanya mempertimbangkan pengetatan kebijakan. Pelaku pasar mencerminkan ekspektasi tersebut dengan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin oleh The Fed akhir bulan ini, yang saat ini berada di kisaran 60 persen menurut alat CME FedWatch. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar.

Data tersebut juga muncul setelah adanya sinyal yang beragam dari para pembuat kebijakan. Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan nada yang sangat hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole pada akhir Agustus. Hal itu diimbangi oleh pernyataan bernada dovish minggu lalu dari anggota pemungutan suara Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), yaitu Presiden The Fed New York John Williams dan Gubernur Christopher Waller.

Para pemantau suku bunga kini akan mencermati laporan Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Agustus yang dijadwalkan rilis minggu ini, guna mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai langkah FOMC pada tanggal 16 September.

Dolar Kanada menguat di tengah pemberlakuan tarif balasan

Dalam pergerakan mata uang lainnya, dolar Kanada menguat dengan pasangan mata uang USD/CAD tercatat turun 0,3 persen ke level 1,3779 di tengah perang dagang yang berkepanjangan antara Washington dan Ottawa.

Tarif balasan yang ditetapkan Kanada, yang menyasar impor AS senilai USD27,6 miliar, mulai berlaku pada hari Selasa.

Sementara itu, Presiden Donald Trump melontarkan kritik terhadap produsen jet bisnis asal Kanada, Bombardier.

"Lebih dari 50 persen pendapatan mereka berasal dari Amerika Serikat—mereka hidup dari pembeli, perusahaan, bandara, dan layanan Amerika—sementara Kanada justru menghalangi bank dan perusahaan HEBAT Amerika di seluruh wilayah AS," tulis pemimpin AS tersebut di platform Truth Social miliknya.

"Jika mereka menginginkan pasar kita, mereka harus membangun [fasilitas] di sini," tambah Trump.

(Eko Nordiansyah)