Ruangan di Gereja Ini Jadi Saksi Bisu Gus Dur Mengajar Para Pendeta Selama 7 Tahun

Ruang Gus Dur di Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Jalan S Supriadi Nomor 18, Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq

Ruangan di Gereja Ini Jadi Saksi Bisu Gus Dur Mengajar Para Pendeta Selama 7 Tahun

Daviq Umar Al Faruq • 11 February 2026 12:06

Malang: Di sebuah sudut tenang Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Jalan S Supriadi Nomor 18, Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, waktu seolah berhenti berputar. Sebuah ruangan berukuran 5x7 meter berdiri kokoh, bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai saksi bisu sejarah panjang tenun kebangsaan yang dirajut oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, udara dingin Malang menyergap, namun kehangatan terasa di dalam kompleks seluas 3 hektare tersebut. Di bawah temaram lampu, Pendeta Natael Hermawan, Ketua Majelis Agung GKJW, menunjukkan sebuah ruangan yang hingga kini dijaga layaknya pusaka.

"Ada historis catatan sejarah bahwa KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur itu pernah mengajar di tempat ini, di Kantor Majelis Agung GKJW, tujuh tahun, mulai 1974 sampai 1981 tentang teologi Islam atau juga Islamologi mengajar para pendeta di tempat ini," ujar Pdt Natael mengawali ceritanya.
 


Jauh sebelum menjabat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur telah meletakkan fondasi toleransi di gereja ini. Selama tujuh tahun, sebulan sekali, Gus Dur hadir untuk memberikan kuliah Islamologi kepada para pendeta dan calon pendeta.

Pendeta Natael mengenang betapa progresifnya pemikiran Gus Dur kala itu. Baginya, belajar agama harus langsung dari sumbernya yang otoritatif.

"Beliau punya pemahaman bahwa kalau untuk belajar tentang Islam, itu seharusnya ya narasumbernya atau pengajarnya juga harus orang Islam. Kalau belajar tentang Kristen, harusnya juga narasumber atau pengajarnya juga orang Kristen," tutur Pdt Natael menirukan prinsip sang kiai.


Ruang Gus Dur di Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Jalan S Supriadi Nomor 18, Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq


Hingga kini, GKJW berkomitmen merawat setiap jengkal ruang yang pernah digunakan Gus Dur. Meja, kursi, hingga kamar transit yang pernah menjadi saksi bisu Gus Dur beristirahat masih tertata rapi. Bagian dari sejarah ini dianggap sebagai harta yang tak ternilai bagi jemaat dan organisasi.

"Ruangan Gus Dur, istirahat beliau, transit selama tujuh tahun kami rawat, kami jaga. Ada ruangan, ada meja, kursi, tetap kami jaga. Ruangan mengajar beliau juga tetap kami jaga, kami rawat. Karena ini menjadi hal yang sangat berharga," tegas Pdt Natael.

Setelah menjadi orang nomor satu di Indonesia, Gus Dur bahkan tidak melupakan rumah lamanya ini. Dia sempat kembali berkunjung untuk bernostalgia dengan kenangan mengajar di Malang.

"Dan bahkan ketika Gus Dur juga menjadi Presiden Republik Indonesia, itu juga sempat juga rawuh ke sini untuk mengenang itu," tambah Pdt Natael.


Makan siang nostalgia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Kantor Majelis Agung GKJW. Dokumentasi/ istimewa

Lebih dari sekadar hubungan personal Gus Dur, Pendeta Natael mengungkapkan adanya kemiripan garis waktu dan sosiologis antara Nahdlatul Ulama (NU) dan GKJW. Keduanya lahir dari rahim yang sama: Jombang.

"Ada sebuah historis, ada sebuah sejarah bahwa antara GKJW, umat Kristen dan juga Nahdlatul Ulama ini, secara berdirinya organisasi itu hampir bersamaan. Nahdlatul Ulama 1926, tentunya dari Tebuireng dan Jombang. Nah GKJW ini 1931 dari Mojowarno Jombang. Sama-sama Jombang, dan secara tahunnya tidak berbeda jauh," jelas Pdt Natael secara rinci.

Malam itu, suasana persaudaraan semakin nyata saat rombongan jemaah Nahdliyin dari Surabaya transit di GKJW sebelum menuju Stadion Gajayana untuk acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU. Pengurus gereja menyambut mereka dengan tangan terbuka, menyediakan kopi, teh hangat, hingga camilan tradisional.

Bagi GKJW, merawat ruangan Gus Dur dan menyambut jemaah NU adalah satu tarikan napas: merawat persaudaraan.

"Kami napak tilas terhadap para pendahulu kami yang sudah menjalin persaudaraan menjadi generasi yang baik, sehingga generasi pada saat ini baik kami GKJW, umat Kristen dan juga Nahdlatul Ulama bisa meneruskan melestarikan persaudaraan ini," tutup Natael.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)