Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Turun 0,49% di Tengah Tekanan Inflasi
Husen Miftahudin • 16 October 2026 08:25
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari level tertinggi dalam hampir 18 bulan pada perdagangan Kamis waktu setempat. Penurunan tersebut terjadi setelah reli di pasar obligasi pemerintah AS menekan imbal hasil, meskipun data inflasi produsen menunjukkan kenaikan jauh di atas perkiraan pasar.
Mengutip Xinhua, Jumat, 16 Oktober 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,49 persen menjadi 102,055.
Di pasar valuta asing, euro menguat menjadi USD1,1212 dari USD1,1153 pada sesi sebelumnya. Pound sterling juga naik menjadi USD1,3272 dari USD1,3181.
Sementara itu, dolar AS melemah terhadap yen Jepang menjadi 158,14 yen dari 158,20 yen. Dolar juga turun terhadap franc Swiss menjadi 0,8271 dari 0,8345.
Sementara terhadap dolar Kanada, dolar AS juga turun menjadi 1,4190 dari 1,4247. Sedangkan terhadap krona Swedia, mata uang Negeri Paman Sam itu turun menjadi 9,9597 dari 10,0321.
Pelemahan dolar terjadi di tengah rilis sejumlah indikator ekonomi AS yang memperlihatkan tekanan inflasi masih tinggi, belanja konsumen tetap kuat, dan pasar tenaga kerja relatif stabil.
Inflasi produsen AS lampaui perkiraan
Mengutip Investing.com, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) naik 1,3 persen secara bulanan pada September 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam sekitar 4,5 tahun dan melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,3 persen. Pada Agustus, PPI meningkat 0,5 persen.
Secara tahunan, PPI naik 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan 5,3 persen dan kenaikan 5,6 persen pada Agustus. Angka tersebut menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak Desember 2022.
Tekanan juga terlihat pada PPI inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi. Indikator tersebut meningkat 0,7 persen secara bulanan dan 5 persen secara tahunan pada September.
Realisasi itu melampaui perkiraan pasar masing-masing sebesar 0,3 persen dan 4,4 persen. Pada Agustus, PPI inti tercatat naik 0,2 persen secara bulanan dan 4,8 persen secara tahunan.
Data PPI tersebut dirilis sehari setelah indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS juga menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan. Kedua indikator memperlihatkan besarnya tekanan harga energi terhadap inflasi.
Berdasarkan laporan PPI, indeks permintaan akhir energi melonjak 10,8 persen secara bulanan pada September. Kenaikan tersebut menyumbang lebih dari 80 persen terhadap peningkatan harga barang untuk permintaan akhir yang mencapai 2,6 persen.
Kenaikan harga barang tersebut menjadi yang terbesar sejak penghitungan indeks dimulai pada Desember 2009.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Imbal hasil obligasi AS tekan pergerakan dolar
Meski data inflasi produsen melampaui ekspektasi, dolar AS justru melemah seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun 11 basis poin menjadi 5,079 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor dua tahun turun 4,9 basis poin menjadi 4,753 persen.
Dalam beberapa waktu terakhir, pasar obligasi menghadapi tekanan yang mendorong imbal hasil ke level tinggi. Namun, obligasi pemerintah AS kembali diminati sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya utang perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Penurunan imbal hasil tersebut mengurangi dukungan bagi dolar, meskipun indikator ekonomi AS masih memperlihatkan tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi yang relatif kuat.