Wall Street Tergelincir Jelang Laporan Keuangan Alphabet-Tesla

Ilustrasi, perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Wall Street Tergelincir Jelang Laporan Keuangan Alphabet-Tesla

Husen Miftahudin • 23 July 2026 08:27

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat seiring sikap hati-hati investor yang menantikan laporan keuangan kuartal II dari Alphabet dan Tesla. Sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya tensi perdagangan internasional serta kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik.
 
Mengutip Xinhua, Kamis, 23 Juli 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 6,06 poin atau 0,01 persen ke level 52.218,58. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 10,24 poin atau 0,14 persen menjadi 7.498,96 dan Nasdaq Composite melemah 146,3 poin atau 0,57 persen ke posisi 25.690,9.
 
Pergerakan sektor dalam indeks S&P 500 berlangsung beragam. Dari 11 sektor utama, enam sektor berhasil ditutup di zona hijau.
 
Sektor utilitas memimpin penguatan dengan kenaikan 2,29 persen, diikuti sektor material yang naik 1,45 persen. Sebaliknya, sektor jasa komunikasi mencatat penurunan terbesar sebesar 1,29 persen, disusul sektor barang konsumsi nonprimer yang turun 0,84 persen.
 

 

Menanti kinerja Alphabet dan Tesla

 
Perhatian pelaku pasar tertuju pada dimulainya musim laporan keuangan kelompok perusahaan Magnificent Seven setelah penutupan perdagangan.
 
Investor mencermati laporan keuangan Alphabet untuk menilai efektivitas belanja modal perusahaan dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), terutama terhadap pertumbuhan bisnis mesin pencarian dan layanan cloud.
 
Selain Alphabet, pasar juga menunggu laporan kinerja Tesla sebagai salah satu perusahaan kendaraan listrik terbesar di dunia.
 
Di tingkat emiten, Super Micro Computer menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar setelah melonjak hampir 20 persen. Penguatan tersebut turut mengangkat saham perusahaan lain di sektor yang sama.
 
Saham Dell Technologies naik 9,32 persen, sedangkan Hewlett Packard Enterprise menguat 3,02 persen. Sebaliknya, saham GE Vernova anjlok 8,69 persen setelah membukukan hasil keuangan yang mengecewakan. Di sisi lain, AT&T naik 3,5 persen karena mencatat pendapatan yang melampaui ekspektasi pasar.


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Tarif dagang dan geopolitik membayangi pasar

 
Sentimen negatif juga datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan rencana mengganti tarif universal sementara sebesar 10 persen yang akan berakhir dengan skema tarif permanen. Usulan tersebut mencakup tarif hingga 100 persen terhadap impor obat-obatan generik.
 
Selain itu, tarif baru sebesar 25 persen untuk sejumlah produk impor dari Brasil mulai diberlakukan pada Rabu. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya biaya rantai pasok global.
 
Di sisi lain, konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi pasar komoditas. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melanjutkan penguatan.
 
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September naik 2,95 persen menjadi USD86,83 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent kontrak September menguat 3,36 persen menjadi USD94,07 per barel di ICE Futures London.

(Husen Miftahudin)