Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI/Ramdani.
Ditutup ke Level Rp17.725/USD, Rupiah Nyaris Tak Bergerak Hari Ini
Husen Miftahudin • 26 August 2026 16:14
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini nyaris tidak mengalami pergerakan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 26 Agustus 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.725 per USD. Mata uang Garuda tersebut hanya turun tipis dua poin atau setara 0,0 1persen dari posisi Rp17.723 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah tipis dua poin, sebelumnya sempat menguat tujuh poin di level Rp17.725 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.723 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.690 per USD. Rupiah justru mengua sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp17.699 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.717 per USD turun 14 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.703 per USD.
AS-Iran hampir capai kesepakatan gencatan senjata
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh laporan media Rusia yang menyebutkan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan yang dilaporkan itu mencakup kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz dan diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Laporan tersebut muncul setelah pejabat Pakistan pekan ini menyatakan telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan mediasi dengan Iran, serta membahas pemulihan kesepakatan gencatan senjata sementara. Pakistan telah menjadi mediator regional utama dalam konflik AS-Iran yang sedang berlangsung, dan juga turut memfasilitasi kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara pada bulan Juni lalu.
Para investor kini beralih pada data (PCE) AS yang akan dirilis pada hari Rabu dan pidato penting pertama Warsh sebagai Ketua The Fed di simposium Jackson Hole pada Jumat. Laporan PCE akan memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi ekonomi AS dan tekanan inflasi.
Sementara itu, pidato Warsh di Jackson Hole dapat memberikan indikasi yang lebih jelas mengenai pandangan The Fed terhadap keseimbangan antara inflasi yang persisten dan prospek ekonomi secara keseluruhan.
Pidato tersebut sangat penting karena para pelaku pasar menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai kapan The Fed bersedia menyesuaikan kebijakan sebagai respons terhadap inflasi. Warsh sempat menghadapi kritik terkait kurangnya kejelasan mengenai pandangan ekonominya, sehingga penampilan pada hari Jumat ini berpotensi menjadi sinyal penting bagi pasar.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: dok MI/Susanto)
Siklus ekonomi domestik masih belum optimal
Sementara itu, Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut siklus ekonomi domestik masih belum optimal. Banyak sektor yang bisa diakselerasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya mendorong optimalisasi fungsi intermediasi perbankan nasional, yang saat ini terdapat undisbursed loan sebesar Rp2.548 triliun atau sekitar 21 persen dari plafon per Juli 2026.
Selain itu, lanjut dia, terdapat ruang untuk mendorong kredit UMKM. Segmen ini dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Menjaga stabilitas ekonomi saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Oleh karena itu diperlukan bauran kebijakan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini tentunya perlu juga diikuti oleh mandat dan tanggung jawab yang semakin besar sehingga menuntut kapasitas kelembagaan yang semakin kuat dan adaptif.
"Pasar juga sedang menunggu sejumlah data domestik penting akan dirilis pekan depan, termasuk data inflasi Agustus, kinerja perdagangan Juli, PMI Manufaktur Indonesia, cadangan devisa, serta Indek Keyakinan Konsumen (IKK)," papar Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.720 per USD hingga Rp17.760 per USD," jelas Ibrahim.