Daftar Tokoh Dunia yang Pernah Jadi Target Penyadapan

Ilustrasi Penyadapan. Foto: dok. Freepik

Daftar Tokoh Dunia yang Pernah Jadi Target Penyadapan

Angel Rinella • 5 November 2026 08:30

Jakarta: Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto mencuat setelah Bareskrim Polri mengungkap penggunaan sistem Lawful Interception Management System (LIMS) untuk menyadap sejumlah nomor telepon tanpa prosedur hukum. 

Praktik tersebut diduga berlangsung sepanjang 2025–2026 dan menyeret tiga perwira tinggi Polri sebagai tersangka.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Asep Safrudin mengungkapkan sejumlah nomor telepon diduga dimasukkan ke server LIMS tanpa melalui proses verifikasi. Penyadapan tersebut juga disebut tidak berkaitan dengan kepentingan penyelidikan maupun penyidikan perkara pidana.

Kasus ini kembali mengingatkan publik pada sejumlah peristiwa penyadapan yang pernah menyasar kepala negara di Indonesia maupun negara lain. Mantan Presiden BJ Habibie, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Joko Widodo pernah dikaitkan dengan kasus serupa.

Di luar Indonesia, sejumlah pemimpin dunia juga pernah menjadi target penyadapan badan intelijen asing. Berikut daftar tokoh dunia dan kepala pemerintahan yang pernah menjadi sasaran penyadapan.

1. BJ Habibie (1998)

Salah satu kasus penyadapan yang pernah terjadi di Indonesia dialami mantan Presiden ketiga RI, BJ Habibie. Peristiwa tersebut berlangsung pada 10 Desember 1998 ketika Habibie sedang berbicara melalui telepon dengan Jaksa Agung M Andhi Ghalib, sehari setelah pemeriksaan terhadap mantan Presiden Soeharto.

Percakapan keduanya kemudian bocor dan disebarluaskan kepada publik. Rekaman pembicaraan tersebut dimuat dalam majalah Panji Masyarakat edisi 24 Februari 1999.

Kasus ini menarik perhatian masyarakat karena percakapan tersebut berkaitan dengan situasi politik nasional saat itu.

2. Susilo Bambang Yudhoyono (2009)

Beberapa tahun setelah kasus Habibie, dugaan penyadapan kembali terjadi terhadap kepala negara Indonesia. Kali ini, mantan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi sasaran pemantauan yang diduga dilakukan badan intelijen Australia.

Reuters memberitakan intelijen Australia menyadap komunikasi melalui telepon seluler milik SBY. Tidak hanya itu, telepon seluler istri SBY dan sejumlah menteri senior juga menjadi target pemantauan.

Dokumen rahasia yang dilaporkan The Guardian Australia dan Australian Broadcasting Corporation pada 2009 mengungkapkan bahwa aktivitas elektronik keluarga SBY turut diawasi. Pemantauan terhadap telepon seluler SBY diketahui berlangsung selama 15 hari pada Agustus 2009.

Terungkapnya operasi tersebut memicu ketegangan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia. SBY kemudian mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbott, untuk meminta penjelasan resmi mengenai dugaan penyadapan.

Persoalan ini kemudian berangsur mereda setelah Australia menunjukkan komitmen untuk membahas kode etik hubungan bilateral pada Mei 2014.

3. Joko Widodo (2013)

Sementara itu, dugaan penyadapan juga pernah dialami Joko Widodo (Jokowi) sebelum menjabat sebagai Presiden ketujuh RI. Informasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan saat itu, Tjahjo Kumolo.

Tjahjo mengungkapkan rumah dinas Jokowi ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta diduga telah disadap sejak akhir 2013. Namun, Jokowi disebut tidak terlalu mempersoalkan dugaan tersebut.

4. Angela Merkel (2009–2011)

Praktik penyadapan terhadap pemimpin negara tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada periode yang hampir bersamaan, Kanselir Jerman Angela Merkel juga menjadi target pemantauan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat atau National Security Agency (NSA).

NSA diketahui menargetkan sekitar 125 nomor telepon milik pejabat tinggi Jerman. Sasaran pemantauan mencakup saluran telepon kantor hingga mesin faks.

Sejumlah percakapan Merkel yang diduga berhasil disadap berkaitan dengan isu-isu penting dalam hubungan internasional. Informasi tersebut antara lain:

  • Pembahasan Merkel mengenai krisis keuangan internasional pada 2009.
  • Percakapan mengenai isu Iran bersama Putra Mahkota Uni Emirat Arab pada 2009.
  • Pembahasan terkait krisis zona Euro pada 2011.

Terungkapnya penyadapan tersebut memicu skandal politik di Jerman. Kasus ini juga memperbesar sorotan terhadap aktivitas intelijen Amerika Serikat dalam memantau komunikasi pejabat negara lain.

5. Emmanuel Macron (2021)

Enam tahun setelah pengungkapan dokumen penyadapan terhadap tiga presiden Prancis, kasus serupa kembali menjadi perhatian dunia. Kali ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron masuk dalam daftar tokoh yang nomor teleponnya teridentifikasi dalam basis data Proyek Pegasus atau Pegasus Project pada 2021.

The Wire memberitakan investigasi tersebut mengungkap sekitar 50 ribu nomor telepon dalam basis data global. Dari jumlah tersebut, terdapat 14 kepala negara dan kepala pemerintahan yang nomor teleponnya teridentifikasi.

Selain Macron, sejumlah pemimpin yang masuk dalam daftar tersebut di antaranya Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa. Temuan ini menarik perhatian dunia karena melibatkan sejumlah pejabat tinggi dari berbagai negara.

Pegasus sendiri merupakan perangkat lunak pengintai atau spyware yang dikembangkan NSO Group, perusahaan teknologi asal Israel. Perangkat lunak tersebut memiliki kemampuan untuk mengekstraksi data, melakukan pemantauan pasif, serta mengumpulkan informasi secara aktif melalui berbagai aplikasi pesan populer.

Kemampuan tersebut membuat Pegasus menjadi sorotan dalam isu keamanan digital dan privasi komunikasi. Kasus ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memantau aktivitas komunikasi para pejabat negara.

6. Presiden-Presiden Prancis (2015)

Kasus penyadapan terhadap pemimpin negara juga terungkap di Prancis. Pada Juni 2015, WikiLeaks membocorkan dokumen yang berkaitan dengan operasi penyadapan NSA terhadap tiga presiden Prancis secara berturut-turut.

Ketiga pemimpin yang menjadi sasaran penyadapan tersebut adalah:

  • Jacques Chirac (1995–2007): Presiden Prancis sebelum Nicolas Sarkozy.
  • Nicolas Sarkozy (2007–2012): Presiden Prancis yang menggantikan Jacques Chirac.
  • François Hollande (2012–2015): Presiden Prancis setelah Nicolas Sarkozy.

Dalam dokumen yang dibocorkan, NSA disebut memiliki daftar nomor telepon sejumlah pejabat di Istana Élysée, yang menjadi kediaman resmi sekaligus kantor Presiden Prancis. Badan intelijen tersebut juga dilaporkan memiliki akses ke saluran telepon langsung Presiden.

Sejumlah percakapan penting yang berhasil disadap berkaitan dengan berbagai persoalan politik dan hubungan internasional. Informasi yang dikumpulkan mencakup:

  • Krisis keuangan global dan krisis utang Yunani.
  • Pengelolaan politik serta masa depan Uni Eropa.
  • Hubungan pemerintahan François Hollande dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.
  • Upaya Prancis memengaruhi daftar calon pemimpin PBB.
  • Keterlibatan Prancis dalam konflik Palestina.
  • Perselisihan pemerintah Prancis dan Amerika Serikat terkait aktivitas spionase AS di Prancis.

Pengungkapan dokumen tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi para pemimpin negara menjadi salah satu sasaran pengumpulan informasi oleh badan intelijen asing.

(Arga Sumantri)