Ilustrasi, dolar AS. Foto: MI/Ramdani.
Dolar AS Menguat di Tengah Lonjakan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Husen Miftahudin • 24 June 2026 10:14
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, didorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS.
Mengutip Xinhua, Rabu, 24 Juni 2026, indeks dolar yang mengukur pergerakan mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,38 persen ke level 101,408.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah ke level USD1,1379 dari sebelumnya USD1,1424. Pound sterling Inggris juga turun menjadi USD1,3188 dari posisi USD1,3244 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada level 161,57 yen Jepang, lebih tinggi dibanding 161,42 yen pada perdagangan sebelumnya. Mata uang Negeri Paman Sam itu juga menguat terhadap franc Swiss menjadi 0,8100 dari 0,8091.
Dolar AS juga naik terhadap dolar Kanada ke level 1,4214 dari 1,4157, serta menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,7466 dari sebelumnya 9,6212.
| Baca juga: Rupiah di Level Rp17.954/USD di Rabu Pagi |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Spekulasi kenaikan suku bunga Fed menguat
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve meningkat tajam setelah keputusan bank sentral pekan lalu.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juli melonjak menjadi lebih dari 36 persen, dari 8,5 persen sepekan sebelumnya.
Untuk pertemuan Desember, pelaku pasar juga menaikkan proyeksi terhadap peluang tambahan kenaikan suku bunga. Kondisi suku bunga yang lebih tinggi umumnya memberikan dukungan terhadap penguatan dolar AS.
Penyesuaian ekspektasi pasar terjadi setelah The Fed merilis Summary of Economic Projections (SEP) pada Rabu pekan lalu, yang dinilai lebih agresif dari perkiraan pasar.
Pembaruan proyeksi tersebut atau dot plot menunjukkan setidaknya separuh peserta FOMC kini memperkirakan kenaikan suku bunga pada tahun ini untuk meredam tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik Iran.
Meski harga minyak turun dalam beberapa pekan terakhir, arah kebijakan moneter dalam proyeksi terbaru kini berubah menjadi ekspektasi setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Sebelumnya, proyeksi mengarah pada sedikitnya dua kali pemangkasan suku bunga.
Data PMI dan PCE jadi fokus pasar
Pelaku pasar kini menantikan data indeks manajer pembelian (PMI) AS untuk Juni serta revisi data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti kuartal I-2026 yang dijadwalkan dirilis Rabu. Data PCE inti menjadi salah satu indikator inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Berdasarkan data S&P Global, indeks output PMI komposit utama AS naik menjadi 52,2 pada Juni dari 51,5 pada Mei, yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan.
Secara rinci, PMI sektor jasa naik menjadi 51,3 dari 50,7 pada Mei, sementara PMI manufaktur meningkat menjadi 57,7, mencatat laju ekspansi tercepat sejak Juli 2021.