Ilustrasi - Pekerja menunjukkan kedelai impor yang dijual di Semanan, Kalideres, Jakarta. ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh/rwa.
Harga Kedelai Naik, DKI Imbau Warga Sesuaikan Kebutuhan Pangan
Siti Yona Hukmana • 9 April 2026 15:55
Jakarta: Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengimbau masyarakat menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangan. Imbauan ini menyusul naiknya harga kedelai di pasaran.
“Untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai, dengan menghimbau masyarakat agar menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangannya dengan komoditas pangan lainnya yang memiliki nilai gizi yang seimbang, namun dengan harga yang lebih terjangkau (diversifikasi pangan),” kata Hasudungan di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 9 April 2026.
Lebih lanjut, Hasudungan menjelaskan saat ini harga kedelai mengalami kenaikan yang bervariasi, mulai dari Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram (kg) pada tingkat pengrajin tahu dan tempe, dari sebelumnya Rp8.000 hingga Rp8.600 per kg. Sementara, kenaikan harga pada tingkat pedagang pasar tradisional, yakni Rp15.000 hingga Rp20.000 per kg, dari harga sebelumnya yang berkisar Rp13.000 hingga Rp18.000 per kg.
Sebelumnya, pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan menaikkan harga produknya seiring lonjakan harga kedelai impor yang dipicu dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram (kg), naik jadi Rp70.000 per kg," kata Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela Joko Asori, 57 dilansir Antara.
Dia mengatakan kenaikan harga kedelai itu berdampak terhadap penjualan satu bungkus keripik tempe dengan berat 250 gram (gr) menjadi Rp19 ribu. Menurut Joko, lonjakan harga kedelai itu mulai dirasakan pada Februari 2026, yaitu Rp930.000 per kuintal.

Produksi keripik tempe di Gang Tempe, Jalan H Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.
Kemudian pada April 2026, harga kedelai melonjak hingga mencapai Rp1.100.000, bahkan lebih. Hal ini pun sangat dirasakan bagi pengrajin tempe murni maupun pengrajin tahu.
"Apa ada dampaknya dengan antara Iran dengan Amerika, saya sendiri nggak tahu. Yang jelas, saat ini pengrajin tempe dan tahu itu sangat-sangat memerlukan modal banyak karena dari per kuintal itu, naiknya kurang lebih hampir Rp200.000 atau Rp170.000 per kuintal. Itu baru bahan bakunya, ya," ujar Joko.
Akibat kenaikan harga tersebut, dia pun menyiasati dengan mengurangi berat pada produknya. "Kalau masalah pengrajin tempe, harga naik, nggak mungkin dinaikin harganya, contoh yang semula sekilonya itu misalkan Rp12.500, paling dikurangi dari sekilo menjadi misalkan 970 gram, dikurangi 30 gram," ungkap Joko.
Dia berharap para pelanggan masih loyal dan memahami kenaikan harga tersebut. Dia juga meminta pemerintah agar dapat lebih membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal.