Serangan Udara Kolombia Tewaskan 20 Gerilyawan di Guaviare

Serangan udara Kolombia menewaskan 20 gerilyawan di Guaviare. (Anadolu Agency)

Serangan Udara Kolombia Tewaskan 20 Gerilyawan di Guaviare

Muhammad Reyhansyah • 1 September 2026 14:40

Bogota: Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengatakan 20 gerilyawan tewas dalam serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai kelompok bersenjata di Guaviare, Kolombia selatan, Senin, 31 Agustus 2026.

“20 narco-teroris berhasil kami lumpuhkan, lima ditangkap, dan dua anak di bawah umur diselamatkan,” kata de la Espriella dalam video yang diunggah di X, dikutip dari France24.

Operasi tersebut dilakukan pada Senin dini hari terhadap kelompok gerilyawan yang berada di bawah komando Ivan Mordisco, salah satu pemimpin pemberontak yang paling dicari di Kolombia.

Serangan itu menjadi bagian dari peningkatan operasi militer pemerintah baru terhadap kelompok bersenjata yang memperoleh pendanaan dari perdagangan narkoba, pertambangan ilegal, dan pemerasan.

Pemerintahan de la Espriella, yang dikenal berhaluan keras dan merupakan sekutu dekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menerima komitmen bantuan keamanan senilai USD1 miliar dari pemerintahan Trump setelah pelantikannya.

Serangan terbaru tersebut menyusul dua serangan udara terhadap kelompok gerilyawan pada awal Agustus. Sumber dari otoritas forensik mengatakan kepada AFP bahwa empat anak di bawah umur termasuk di antara korban tewas dalam salah satu serangan udara pekan lalu, meski belum diketahui identitas maupun keterkaitan mereka dengan kelompok bersenjata.

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa anak-anak dan remaja semakin menjadi sasaran perekrutan kelompok bersenjata melalui kampanye media sosial.

Kelompok yang menjadi sasaran operasi terbaru merupakan faksi Central General Staff (EMC) yang dipimpin Mordisco, salah satu kelompok bersenjata ilegal terbesar di Kolombia.

EMC memisahkan diri dari Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) setelah kelompok tersebut menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintah pada 2016. Kolombia kini menghadapi tingkat kekerasan terburuk dalam satu dekade.

Baca juga: Lebih dari 80 Orang Tewas dalam Konflik Gerilyawan di Kolombia

(Willy Haryono)