Dolar AS Perkasa saat Fed Khawatir Inflasi Bisa Melejit Gegara Konflik Timur Tengah

Dolar AS. Foto: tpfx.co.id

Dolar AS Perkasa saat Fed Khawatir Inflasi Bisa Melejit Gegara Konflik Timur Tengah

Husen Miftahudin • 19 March 2026 07:43

New York: Indeks dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dana federal pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Di samping itu, Ketua Fed Jerome Powell memperingatkan kemajuan inflasi telah terhenti.

Mengutip FX Street, Kamis, 19 Maret 2026, indeks dolar AS diperdagangkan pada level 100,13, bergerak naik tajam di jam-jam terakhir, menyusul keputusan suku bunga Fed dan konferensi pers Ketua Fed Jerome Powell yang membawa indeks langsung ke level tertinggi sesi.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan suara 11 berbanding 1 untuk mempertahankan suku bunga dana federal, dengan Gubernur Stephen Miran sebagai satu-satunya yang berbeda pendapat dan mendukung pemotongan sebesar 25 basis poin. 

Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) yang diperbarui membawa sinyal yang lebih agresif dimana para pejabat Fed menaikkan perkiraan inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada 2026 menjadi 2,7 persen dari 2,5 persen pada Desember lalu, baik secara keseluruhan maupun inti, sementara sedikit menaikkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 2,4 persen.
 

Baca juga: Redam Gejolak Inflasi Imbas Perang AS-Iran, Fed Ogah Ubah Suku Bunga


(Dolar AS. Foto: Foto: Freepik)
 

Powell 'harap-harap cemas' soal inflasi AS


Pada konferensi pers, Powell bernada hati-hati. Ia mengakui The Fed sedang membuat beberapa kemajuan dalam inflasi, tetapi tidak sebanyak yang diharapkan. Ia mengungkapkan, inflasi barang masih tinggi akibat tarif Trump sebagai hambatan utama.

Mengenai guncangan harga minyak mentah akibat konflik Iran, Powell mengatakan ekspektasi inflasi jangka pendek telah meningkat karena melonjaknya biaya energi, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui cakupan dan durasi dampaknya terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.

Ia menjelaskan, The Fed tidak dapat mengabaikan inflasi yang didorong oleh energi sampai mereka berhasil mengendalikan harga barang terkait tarif terlebih dahulu.

Powell menggambarkan tingkat inflasi saat ini berada dalam kisaran netral dan menolak untuk menyebut perekonomian sebagai stagflasi, dengan mencatat AS adalah pengekspor energi bersih dan beberapa penyeimbang dari peningkatan produksi energi domestik dapat terwujud seiring waktu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)