Jakarta: Dunia pendidikan Tanah Air kembali diguncang insiden serius. Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) diduga melakukan aksi berbahaya, yakni melempar bom molotov di lingkungan sekolah.
Peristiwa tersebut tidak hanya memicu kekhawatiran tentang keamanan di sekolah, tetapi juga memicu kembali perhatian mengenai kondisi psikologis anak serta pengawasan terhadap lingkungan sosial dan digital remaja.
Kronologi ledakan di SMPN 3 Sungai Raya
Sebelumnya, suasana belajar di
SMPN 3 Sungai Raya, Kubu Raya,
Kalimantan Barat, Selasa, 3 Februari 2026, sempat terganggu setelah terdengar ledakan keras yang diduga berasal dari lemparan
bom molotov. Meski api tidak sampai merambat ke bangunan utama sekolah, kejadian tersebut sempat memicu kepanikan di kalangan siswa dan guru.
Aparat kepolisian segera melakukan olah tempat kejadian perkara dengan melibatkan tim Laboratorium Forensik Polda Kalbar bersama tim Inafis Polres Kubu Raya.
Wakapolres Kubu Raya Kompol Andri Syahroni menyampaikan seorang terduga pelaku telah diamankan di Polsek Sungai Raya. Namun, pihak kepolisian masih mendalami kronologi serta motif di balik peristiwa tersebut.
Polisi mengungkapkan terduga pelaku merupakan siswa aktif kelas 9, dan kini telah diamankan di Pos Sungai Raya untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Hasil penyelidikan polisi
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri menemukan enam bom molotov dari kasus seorang siswa SMPN 3 Sungai Raya yang melemparkan molotov di lingkungan sekolah. Polisi juga menemukan lima buah gas portable yang bagian sampingnya direkatkan petasan, paku, dan pisau. Ditemukan pula satu buah pisau.
Polisi mendalami aspek psikologis dan keterlibatan pelaku dalam komunitas tertentu.
Fakta-fakta terkait pelaku
Polisi mengungkapkan fakta baru terkait insiden ledakan di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. Ternyata, siswa yang diduga pelaku pernah menyebarkan ujaran kebencian di media sosial.
Pelaku juga diduga merupakan korban perundungan dan melakukan aksi tersebut sebagai balas dendam. Pelaku juga diduga mengalami tekanan mental karena adanya permasalahan di keluarga.
Ledakan di sekolah, fenomena berulang
Kasus ledakan di SMPN 3 Sungai Raya tersebut menjadi sebuah fenomena dalam beberapa waktu terakhir ternyata berulang. Insiden serupa yang terjadi di lingkungan pendidikan yaitu pada 7 November 2025 sebuah ledakan bom rakitan di SMAN 72, Jakarta Utara.
Polisi menemukan 7 bahan peledak di TKP. Pelaku tidak terhubung jaringan teror, dan terindikasi menjadi korban perundungan.
Sumber: Redaksi Metro TV