Pengguna Kendaraan Listrik Semakin Banyak, GAIKINDO Desak Harga Baterai Kompetitif

13 April 2026 15:56

Jakarta: Minat masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik terus menunjukkan peningkatan di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik Timur Tengah. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi. Terutama infrastruktur yang belum merata serta persoalan baterai.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Kukuh Kumara menyebut, tren peningkatan Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik semakin terasa sejak Februari 2026. Bahkan, EV kini berhasil menguasai pasar internasional dengan lebih dari 20–23 persen.

Di samping keunggulannya, Kukuh menyoroti performa dan harga baterai EV. Ia mengatakan bahwa baterai EV dapat menurun seiring dengan bertambahnya waktu, ditambah harga baterai yang masih sangat mahal, bahkan bisa mencapai 40–70 persen dari total harganya. 

"Memang betul tadi bahwa antara 40 sampai 70 persen harga EV itu dari baterainya. Jadi baterai ini komponen yang paling mahal. Pemainnya sudah banyak yang bikin EV di Indonesia banyak, tapi sebagian besar komponennya masih impor," kata Kukuh, dikutip dari Zona Bisnis, Metro TV, Senin, 13 April 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan, sehingga diperlukan pendalaman terhadap komponen utama EV agar pemanfaatan kendaraan listrik di Indonesia dapat terus berkelanjutan.
 

Baca Juga: Ekspor Mobil Listrik Tiongkok Melonjak 140% di Tengah Krisis Energi Global

"Seperti halnya dengan konvensional vehicle, perlu pendalaman komponen-komponen utama dari EV yang terdiri dari elektrik motornya, baterai dan kemudian chipnya," tutur Kukuh. 

Selain persoalan baterai, Kukuh menilai tren EV masih terkonsentrasi di kota-kota besar, khususnya Jakarta. Banyak pembeli memilih EV untuk memudahkan mobilitas dan menghindari aturan ganjil-genap.

Kondisi ini juga menjadi perhatian para pelaku industri, karena penggunaan EV di luar Jakarta atau di luar Pulau Jawa dapat menimbulkan tantangan baru bagi pengguna. Salah satunya adalah terbatasnya ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

"Memang kalau dari minat membeli kendaraan bermotor listrik itu terpusat di kota-kota besar, lebih spesifik lagi Jakarta karena ada kebijakan ganjil genap. Bagi yang first time buyer masih mikir-mikir kalau beli mobil listrik mau dipakai keluar kota, infrastrukturnya masih di pernyatakan," ujar Kukuh. 

Oleh karena itu, Kukuh menekankan perlunya inovasi dari para pelaku industri, seperti menawarkan sistem sewa baterai yang lebih tahan lama atau mengembangkan teknologi plug in hybrid. Dengan kombinasi mesin bensin dan listrik, pengguna tidak perlu khawatir mencari SPKLU saat bepergian ke luar kota.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gervin Nathaniel Purba)