Terjebak Karhutla, BKSDA Selamatkan Induk dan Anak Orang Utan di Kalimantan Tengah

3 September 2026 12:49

Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah II Kalimantan Tengah (Kalteng), bersama Oran gutan Foundation berhasil menyelamatkan induk dan anak orang utan yang terjebak di area lahan yang terbakar di Desa Telaga, Kecamatan Mentawa Baru, Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur. 

"Teman-teman yang berada di kantor Seksi Pangkalan Bun langsung bersama-sama dengan pihak OFI langsung ke lokasi. Dan malam hari ini, alhamdulillah, ternyata bukan satu individu tapi dua individu orangutan yang berhasil diselamatkan," kata Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, pada Kamis, 3 September 2026. 

Kedua orang utan ini ditemukan saat anggota TNI melakukan patroli kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Guna mengevakuasi Orang utan dari lokasi kebakaran, tim penyelamat terpaksa menembak bius induk orang utan terlebih dahulu. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, induk dan anak orang utan hanya mengalami gangguan pernapasan ringan. Orang utan kemudian dibawa ke kantor BKSDA Seksi Wilayah Dua Pangkalan Bun untuk mendapat penanganan lebih lanjut dan akan dilepasliarkan di Taman Nasional Tanjung Puting atau di Suaka Margasatwa Lamandau.

"Seperti yang sebelumnya, kegiatan rescue, setelah kegiatan rescue ini akan dibawa ke kantor Pangkalan Bun, dan dari hasil penilaian tim dokter, nanti baru bisa diputuskan bahwa misalkan orang utannya sehat, akan segera langsung dilepasliarkan di wilayah biasanya ada dua, kalau tidak di Taman Nasional Tanjung Puting, bisa di Suaka Margasatwa Lamandau," ujar Muriansyah. 

Sementara itu, hasil pemeriksaan medis menyatakan induk orang utan diperkirakan berusia sekitar 20 tahun yang ditinjau dari jumlah serta pertumbuhan giginya. Sementara anaknya diperkirakan baru berusia sekitar satu tahun dan berjenis kelamin betina.


Untuk keperluan analisis kesehatan lebih lanjut, tim medis turut mengambil sampel darah dan rambut. Adapun sampel feses belum dapat diambil karena satwa belum membuang kotoran selama proses evakuasi.

"Kemungkinan ada dehidrasi, tetapi tidak separah itu. Kami sudah mengambil sampel darah dan rambut, sedangkan sampel feses akan kami upayakan setelah dia makan," pungkas Ichlasul.

Berdasarkan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, lingkar perut dan rongga dada kedua satwa tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi berat, serta struktur tulang tubuhnya tidak tampak menonjol secara berlebihan.


(Lutfia Azzahra)

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X