Rupiah Ditutup ke Level Rp17.938/USD Sore Ini

Ilustrasi rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Ditutup ke Level Rp17.938/USD Sore Ini

Gervin Nathaniel Purba • 15 October 2026 16:15

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) masih menunjukkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Mengutip data Bloomberg, rupiah bergerak turun 35 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.938 per USD, dibandingkan penutupan sore kemarin pada level Rp17.903 per USD.

Tren melemahnya rupiah juga tercatat dalam data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Mata uang Garuda tercatat pada level Rp17.948 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya tercatat Rp17.898 per USD.

Data dari Yahoo Finance juga mencatat melemahnya rupiah terhadap USD. Yahoo Finance mencatat mata uang Garuda melemah 44 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.937 per USD. Pada penutupan sore kemarin, rupiah sempat menguat pada level Rp17.895 per USD.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 35 poin. Sebelumnya sempat melemah 60 point pada level Rp17.938 per USD dari penutupan sebelumnya pada level Rp17.903 per USD," kata Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, dalam keterangan tertulis, Kamis, 15 Oktober 2026.

Di sisi lain, rupiah tercatat menguat jika dibandingkan pada perdagangan pagi tadi. Nilai tukar rupiah terhadap USD tercatat pada level Rp17.948 per USD.




BI Nilai Minat Investor Asing Positif terhadap Insentif Biaya Hedging

Ilustrasi. Foto: Dok MI


Sikap Houti dan Iran


Riset Ibrahim mencatat menguatnya USD dipengaruhi serangan kelompok Houti ke kantor pusat Saudi Aramco masih menjadi faktor. Kemudian Iran bersikap akan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi.

"Iran menyatakan mereka meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran serta sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu," kata Ibrahim, dikutip dari risetnya.
 

Selain itu, menguatnya USD juga dipengaruhi Indeks Harga Konsumen (CPI) September naik 0,6 persen secara bulanan. Hal ini sesuai ekspektasi dan meningkat dari kenaikan 0,4 persen pada Agustus. 

"Inflasi utama tahunan naik menjadi 3,7 persen dari 3,4 persen, melampaui perkiraan 3,6 persen. Sementara CPI inti, yang tidak mencakup harga makanan dan energi, naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi 0,2 persen dan menyamai laju Agustus. Tingkat inflasi inti tahunan naik menjadi 2,6 persen dari 2,4 persen, juga di atas perkiraan 2,5 persen," kata Ibrahim.


 

Jelang evaluasi MSCI


Sementara dari faktor internal, pasar saham indonesia menghadapi tekanan menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026. Bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43 persen pada akhir September, sementara investor mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, dan perkembangan reformasi pasar modal. 

"Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif," tutur Ibrahim.

Selain itu, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai belum memberikan hasil yang memuaskan. Di sisi lain, biaya dan risikonya justru dikhawatirkan semakin mengancam keuangan negara. 

"Disisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pengelola MBG maupun pihak terkait lain, tidak mempublikasikan data kepada publik mengenai dampak MBG terhadap penurunan stunting, sebagaimana tujuan utamanya," ungkap dia.

Ibrahim memprediksi mata uang Garuda bergerak fluktuatif untuk perdagangan besok. Rupiah diprediksi ditutup melemah pada level Rp17.930 per USD hingga Rp17.990 per USD.

"Sedangkan perdagangan dalam minggu ini pada rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per USD," ucap dia.

(Gervin Nathaniel Purba)