Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Hari Ini Ditutup di Level Rp17.907/USD
Husen Miftahudin • 30 June 2026 16:19
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 30 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.907 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 56 poin atau setara 0,31 persen dari posisi Rp17.851 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 56 poin, sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp17.907 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.851 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.878 per USD. Rupiah justru menguat sebanyak 79 poin atau setara 0,44 persen dari Rp17.957 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.899 per USD turun 43 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.856 per USD.
| Baca juga: Rupiah Dibuka ke Rp17.885/USD Selasa, 30 Juni 2026 |
Pasar pelototi hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata.
Para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan tentang pendefinisian ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang, kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi. Ia menambahkan negaranya akan mencoba untuk menghalangi kapal di luar jalur yang telah ditentukan.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak AS dalam beberapa hari mendatang.
Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menimbulkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang. Israel belum bergabung dalam pembicaraan perdamaian AS-Iran dan telah menjauhkan diri dari kesepakatan tersebut.
Selain itu, keyakinan pasar semakin membesar terkait langkah Federal Reserve AS yang akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini. Hal ini terjadi setelah bank sentral menunjukkan sikap hawkish selama pertemuan Juni, dengan beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga.
Perhatian sekarang beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS bulan Juni, dengan rilis Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Kamis. Para ekonom memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114 ribu lapangan kerja sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen, data yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Data neraca perdagangan dinanti pasar
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, pasar juga menunggu data neraca perdagangan untuk periode Mei. Sebelumnya di April defisit transaksi berjalan dan anggaran yang melebar.
Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April hanya USD5,64 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas USD10 miliar.
Inflasi pada Mei mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipimpin oleh kenaikan harga pangan. secara agregat nasional stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatra yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lain.
Ketimpangan inflasi dipicu oleh beberapa faktor, seperti rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat, serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi. Kondisi tersebut diperparah oleh ancaman eksternal. Kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor juga memengaruhi persoalan ini.
"Sentimen juga terguncang oleh undang-undang baru yang memberikan kekebalan hukum menyeluruh bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara Danantara, yang menimbulkan kekhawatiran tentang tata kelola dan transparansi," terang Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.900 per USD hingga Rp17.950 per USD," jelas Ibrahim.